Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 11:20:15 WIB
Rupiah melemah ke level Rp 17.724 per dolar AS, terendah sepanjang sejarah.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS dan terus merosot hingga menyentuh Rp 17.724 pada pukul 10.24 WIB. Sepanjang tahun berjalan, mata uang Garuda sudah melemah 6,25% terhadap dolar AS. Level ini memecahkan rekor terburuk sepanjang sejarah, melampaui titik terendah saat krisis moneter 1998.

Tekanan di Asia dan Sentimen Global yang Mereda

Pelemahan rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang ikut tertekan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%. Rupee India serta yuan China juga tak luput dari tekanan, meski koreksinya lebih tipis.

Namun, ada secercah kabar positif dari panggung global. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, meredakan ketegangan geopolitik yang sempat membuat pasar cemas. Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan sentimen ini berpotensi menahan laju pelemahan rupiah lebih dalam, setidaknya untuk sementara waktu.

Ekspektasi Kenaikan BI Rate Kunci Pergerakan Hari Ini

Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Ekspektasi bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas kurs membuat investor cenderung wait and see. Menurut Lukman Leong, sikap hati-hati ini justru menahan potensi penguatan rupiah karena pelaku pasar belum berani mengambil posisi agresif.

"Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi," ujar Lukman. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berada di rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS, dengan potensi penguatan yang sangat terbatas.

Apa Dampak Rupiah Lemah bagi Masyarakat dan Pelaku Bisnis?

Pelemahan rupiah ke level terendah sepanjang masa berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Harga barang impor, termasuk bahan baku industri, elektronik, dan obat-obatan, berpotensi naik. Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS, beban pembayaran bunga dan cicilan akan membengkak signifikan.

Di sisi investor, depresiasi rupiah membuat aset berbasis dolar AS seperti reksadana pasar uang valas atau emas menjadi lebih menarik. Namun, investor saham perlu mewaspadai tekanan di sektor-sektor yang sensitif terhadap kurs, seperti ritel, properti, dan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.

Kapan Rupiah Bisa Kembali Menguat?

Pemulihan rupiah sangat bergantung pada dua faktor utama. Pertama, keputusan BI terkait suku bunga acuan—kenaikan agresif bisa memberikan bantalan sementara. Kedua, stabilitas ekonomi domestik pasca-RDG dan kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah. Selama kondisi fundamental masih dianggap lemah, tekanan terhadap rupiah diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat.

Reporter: Sutomo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top