KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pabrikan asal China itu mengumumkan kehadiran YU7 Standard Edition dalam acara “Human x Car x Home” pada Selasa malam (15/4). CEO Xiaomi, Lei Jun, secara blak-blakan mengakui bahwa harga varian dasar YU7 sebelumnya tidak cukup kompetitif melawan Tesla. Selisih harga yang semula hanya RMB 10.000 (sekitar Rp 22,4 juta) dinilai kurang signifikan untuk mendongkrak penjualan secara konsisten.
Untuk memperlebar jarak dengan Tesla, Xiaomi merombak seluruh lini YU7. Varian Standard Edition yang kini menjadi pintu masuk termurah dibanderol RMB 233.500 (sekitar Rp 524,4 juta). Angka itu lebih rendah Rp 69,6 juta dari Tesla Model Y RWD yang saat ini dijual di China dengan selisih harga yang semula hanya RMB 10.000.
Dari segi daya jelajah, YU7 Standard Edition unggul dengan 643 km berdasarkan siklus CLTC, sementara Model Y RWD hanya mencapai 593 km. Artinya, konsumen mendapat jarak tempuh lebih jauh dengan harga lebih murah.
YU7 Standard Edition menggunakan satu motor listrik di roda belakang dengan tenaga 235 kW (315 HP). Baterai LFP dari CATL dipasang pada platform 752V, membuat bobot kendaraan turun 115 kg menjadi 2.200 kg dibanding varian dasar sebelumnya yang bermesin ganda.
Fitur standar tetap mewah. Semua varian YU7 dibekali Smart Chassis 2.0 dengan suspensi udara dan peredam CDC, chip NVIDIA DRIVE AGX Thor berkemampuan 700 TOPS, LiDAR, serta radar gelombang milimeter 4D. Sistem bantuan pengemudi—navigasi jalan tol, navigasi perkotaan, dan parkir otomatis—gratis seumur hidup tanpa langganan.
Xiaomi juga memperkenalkan YU7 GT, varian performa tinggi yang dibanderol mulai RMB 389.900 (sekitar Rp 876,5 juta). Mengandalkan motor HyperEngine V8s EVO yang berputar hingga 28.000 rpm dipadu motor depan Inovance, total tenaga mencapai 1.003 PS (990 HP). Akselerasi 0-100 km/jam hanya 2,92 detik dengan kecepatan puncak 300 km/jam.
Di sirkuit Nürburgring Nordschleife, YU7 GT dengan Paket Sirkuit mencatat waktu 7 menit 22,755 detik pada 2 April lalu. Catatan itu memecahkan rekor SUV yang sebelumnya dipegang Audi RS Q8 dengan selisih 14 detik. Tim riset dan pengembangan Xiaomi yang berbasis di Munich menghabiskan dua tahun untuk menyetel sasis model ini.
Rem karbon-keramik dari SU7 Ultra—dengan kaliper enam piston depan dan empat piston belakang buatan Akebono—menghentikan laju mobil dari 100 km/jam dalam jarak 32,9 meter.
Sejak diluncurkan Juni tahun lalu, seri YU7 telah terjual 232.000 unit. Secara keseluruhan, Xiaomi telah mengirimkan lebih dari 600.000 mobil listrik dalam waktu kurang dari dua tahun. Dengan tambahan varian Standard Edition dan GT, perusahaan menargetkan 550.000 pengiriman pada 2026.
Langkah ini menjadi strategi Xiaomi untuk kembali menggerakkan penjualan YU7 yang mulai melambat setelah pesanan awal terselesaikan. Tesla Model Y sendiri baru saja memuncaki penjualan kendaraan energi baru di China pada Maret lalu, menjadikan persaingan di segmen SUV listrik semakin ketat.