KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Harga emas spot tercatat naik tipis 0,1 persen ke posisi USD4.547,54 per ons pada pukul 01.04 WIB, setelah tertekan di awal perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru ditutup melemah 0,1 persen ke level USD4.542,50 per ons. Data ini mengacu pada laporan Reuters dari Bengaluru.
Koreksi harga minyak mentah dunia menjadi salah satu elemen yang meredam tekanan jual. Minyak bergerak fluktuatif sebelum akhirnya melemah akibat ketidakpastian penyelesaian konflik AS-Israel-Iran.
Pelemahan dolar AS dari level tertinggi enam pekan juga memberikan angin segar. Greenback yang mulai memudar membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang turun 0,2 persen juga mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas biasanya kesulitan mencatat kenaikan signifikan di tengah suku bunga tinggi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. "Situasi ini masih menjadi penghambat utama penguatan emas dalam waktu dekat," ujarnya.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58 persen bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Angka ini meningkat dibandingkan 48 persen sehari sebelumnya berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group.
Di sisi lain, logam mulia lainnya mencatat pergerakan positif. Harga perak spot naik 0,9 persen menjadi USD76,63 per ons. Platinum bertambah 0,6 persen ke level USD1.962 per ons, sementara paladium melonjak 1,1 persen menjadi USD1.384,50 per ons.
Sejak perang meletus pada akhir Februari, harga emas telah merosot lebih dari 14 persen. Konflik tersebut mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia. Vice President Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan koreksi harga minyak dan pelemahan dolar menjadi sentimen konstruktif bagi logam kuning dalam jangka pendek, namun pasar masih dibayangi sikap hati-hati karena perundingan sebelumnya kerap gagal.