KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kritik tajam datang dari pengamat publik Nasroel Yasir. Ia menyoroti bahwa pemadaman massal di Sumbagsel bukanlah peristiwa pertama. Menurutnya, kejadian serupa sudah pernah terjadi sebelumnya, namun sistem peringatan dini dan langkah antisipasi di tubuh PLN dinilai masih jebol.
"Perlu dipertanyakan pejabat-pejabat PLN sekarang, kenapa tidak belajar dari yang sudah-sudah. Masih juga tidak bisa bekerja dengan baik," ujar Nasroel, Sabtu (23/5/2026).
Ia menegaskan, masalah blackout bukan isu baru dalam sistem kelistrikan nasional. Semestinya, setiap gangguan kelistrikan yang pernah terjadi menjadi bahan evaluasi serius untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Nasroel juga menyoroti kondisi kelistrikan yang kian kompleks. Menurutnya, penambahan jumlah pembangkit listrik yang masif tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pengelolaan sistem dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).
"Sekarang ini semakin banyak pembangkit, semakin banyak pula masalah yang tidak tertangani," ujarnya.
Ia menilai, akar persoalan ini tidak lepas dari penempatan orang-orang yang dianggap tidak tepat di jajaran direksi PLN. Nasroel mendesak agar pemegang saham, dalam hal ini pemerintah, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja direksi perusahaan listrik negara tersebut.
Blackout di Sumbagsel tidak hanya memadamkan lampu rumah tangga, tetapi juga menghentikan operasional pabrik dan layanan publik. Masyarakat di sejumlah daerah mengeluhkan kerugian akibat aktivitas yang terhenti mendadak, mulai dari kerusakan peralatan elektronik hingga terganggunya proses produksi usaha kecil.
Hingga berita ini diturunkan, PLN belum merilis pernyataan resmi mengenai penyebab pasti dan durasi pemadaman. Namun, kritik dari pengamat publik ini menambah tekanan bagi manajemen PLN untuk segera membenahi sistem kelistrikannya agar kejadian serupa tidak kembali menghantui masyarakat Sumatera.