KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kabar bocornya cuplikan gameplay Grand Theft Auto 6 (GTA 6) kembali mengguncang komunitas gaming. Setelah insiden peretasan besar pada 2022 lalu, seorang leaker dengan nama "Cyberleek" kini secara agresif merilis video gameplay baru setiap hari selama beberapa hari terakhir, memicu reaksi keras dari internal studio pengembang.
Menurut laporan jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, sejumlah karyawan Rockstar merasa "marah" dan "frustrasi" atas insiden ini. Pasalnya, pasca-serangan siber 2022 yang membongkar detail awal GTA 6, pihak studio sempat menerapkan langkah keamanan paling ketat dalam sejarahnya, termasuk menghapus kebijakan kerja jarak jauh (remote work) demi menjaga kerahasiaan proyek.
Namun, langkah preventif tersebut tampaknya sia-sia. Cyberleek disebut-sebut memiliki akses ke sebuah build GTA 6, meski belum jelas apakah itu versi utuh atau hanya sebagian kecil dari permainan. Sampai berita ini diturunkan, Rockstar dikabarkan tengah berupaya melacak identitas pelaku dan telah mengajukan panggilan pengadilan (subpoena) kepada Microsoft dan Discord terkait penyebaran video tersebut.
Menariknya, alih-alih merusak momen, kebocoran ini justru dianggap meningkatkan antisipasi para pemain terhadap penayangan perdana resmi yang akan berlangsung di Netflix. Video yang beredar memang memiliki kualitas rendah dan dipenuhi tanda air (watermark), tetapi menampilkan cuplikan gameplay yang impresif, terutama saat terbang melintasi kota fiksi Vice City.
"Awalnya saya biasa saja menantikan GTA 6, tapi setelah melihat bocorannya, saya jadi makin tidak sabar menunggu tampilan lebih lengkapnya," ujar salah satu pengguna forum yang ramai dikutip di internet. Sentimen serupa banyak ditemukan di berbagai platform media sosial, menunjukkan bahwa eksposur awal justru bekerja sebagai alat pemasaran organik yang efektif.
Insiden ini kian memanas mengingat Rockstar baru saja memecat lebih dari 30 karyawannya. Mereka dianggap membahas urusan pekerjaan di server Discord pribadi yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas serikat pekerja (labor organizing). Kasus ini akan disidangkan di pengadilan bulan depan, dan banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai upaya keras mematahkan gerakan buruh di industri game, bukan murni pelanggaran keamanan.
Hingga saat ini, belum ada kaitan antara para mantan karyawan yang dipecat dengan aksi Cyberleek. Ironisnya, kekacauan justru datang dari pihak eksternal yang tidak teridentifikasi, sementara para karyawan internal harus kehilangan pekerjaan hanya karena percakapan pribadi yang tidak membocorkan apa pun.
Kendati bocoran ini memicu kekacauan internal, dampaknya terhadap performa komersial GTA 6 diprediksi nihil. Take-Two Interactive selaku perusahaan induk telah mengonfirmasi bahwa angka pre-order game tersebut sudah mencapai level yang "belum pernah terjadi sebelumnya".
Dari sisi perspektif pemain, adanya rekaman gameplay mentah memberikan gambaran realistis tentang fisik dan animasi dalam game—termasuk momen-momen janggal seperti karakter yang kesulitan berenang keluar dari sungai—yang jarang terlihat dalam tayangan resmi yang dikurasi ketat. Pertanyaan besarnya kini bukan apakah GTA 6 akan sukses, melainkan apakah Rockstar mampu menutup celah keamanan mereka sebelum peluncuran resmi yang dinanti jutaan pemain global, termasuk di Indonesia.