KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pergerakan harga logam mulia domestik dan global kembali berbeda arah. Antam menetapkan harga perak batangan Rp 45.400 per gram, turun dari posisi sebelumnya Rp 45.800. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan harga emas Antam pada perdagangan hari yang sama.
Antam memasarkan produk perak dalam beberapa varian. Perak batangan 250 gram dipatok Rp 11.875.000, sementara ukuran 500 gram dibanderol Rp 22.825.000. Perusahaan juga menjual perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen.
Situasi berbeda terjadi di pasar global. Harga perak dunia bertahan di atas US$ 68 per ons dan mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Investor menantikan laporan indeks harga PCE AS—tolok ukur inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve—untuk menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Perhatian pasar juga tertuju pada pidato anggota Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium tahunan Jackson Hole pada Jumat pekan ini. Pelaku pasar memperkirakan Warsh tidak akan memberikan panduan jelas soal keputusan bank sentral untuk September.
Faktor lain yang menopang harga perak adalah keputusan Departemen Keuangan AS melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang. Langkah ini mendorong dolar AS ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu, membuat logam mulia semakin menarik bagi pemegang mata uang lain.
Harga perak juga ditopang permintaan industri yang kuat, terutama dari sektor transisi energi ramah lingkungan. Perak menjadi komponen penting dalam pembuatan panel surya fotovoltaik, kendaraan listrik, hingga infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, harga minyak yang turun tiga sesi beruntun ikut meredakan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memperkuat prospek bullish bagi logam mulia secara keseluruhan.
Untuk emas, harga spot tercatat turun tipis 0,1 persen menjadi US$ 4.647,05 per ons pada Selasa (25/8) waktu AS, tetapi tetap mendekati level tertinggi sejak pertengahan Mei. UOB memperkirakan logam mulia ini akan mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak September 1999, dengan kenaikan lebih dari 15 persen sepanjang bulan ini.
Harga emas berjangka juga menguat tipis ke US$ 4.694,50. Pelemahan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih rendah menjadi pendorong utama, karena mengurangi biaya peluang memegang emas batangan.
Indeks dolar telah turun 0,8 persen sepanjang bulan ini. Rencana pemerintah AS membeli kembali obligasi berhasil menahan kenaikan imbal hasil, yang justru turun 3 basis poin bulan ini.
Citi menilai, pidato Warsh yang bernada hawkish berpotensi menghentikan reli emas saat ini. Sebaliknya, jika nada dovish muncul di Jackson Hole, harga emas berpeluang melonjak signifikan. Pasar akan kembali fokus pada kekhawatiran independensi The Fed dan keberlanjutan utang AS yang bisa memicu perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang.