PANGKALPINANG — Siang hari yang terik biasanya dihabiskan Rayyan di atas sepeda motor. Pria berusia 23 tahun itu berpindah dari satu titik ke titik lain mengikuti arahan layar ponsel, menjalani rutinitas sebagai pengemudi ojek daring. Namun, sebuah perjalanan singkat mengubah arah hidupnya.
Perkenalannya dengan dunia aset kripto terjadi secara tidak terduga. Salah seorang penumpangnya yang ternyata karyawan FLOQ mengajaknya berbincang. Percakapan ringan soal pekerjaan itu kemudian merambah ke topik investasi dan aset kripto.
Dari obrolan tersebut, karyawan FLOQ mengetahui bahwa Rayyan sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia kripto. Ia telah mempelajarinya secara otodidak melalui berbagai konten edukasi di internet, salah satunya dari Akademi Crypto.
Ketertarikan itu kemudian mendorong Rayyan untuk membuka akun di platform FLOQ. Meski demikian, ia tidak langsung menjadi trader yang setiap hari memantau pergerakan grafik harga.
Rayyan mengaku belum berani melakukan trading aktif. Ia justru memilih berjalan perlahan dengan pendekatan dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli aset kripto secara bertahap dalam periode tertentu.
Strategi ini dinilai lebih aman bagi pemula karena tidak bergantung pada fluktuasi harga jangka pendek. Di sela-sela waktu menunggu pesanan ojol, Rayyan terus mengikuti konten edukasi untuk memperdalam pemahamannya tentang ekosistem aset digital.
Kegigihan Rayyan untuk belajar membuahkan hasil. Ia berhasil menembus ajang Coinfest Asia 2026, sebuah konferensi aset kripto berskala regional yang mempertemukan para pelaku industri dan investor.
Bagi Rayyan, langkah pertamanya di dunia kripto tidak dimulai dari keberanian mengambil risiko besar. Justru sebaliknya, ia membangun pondasi dari belajar dan pemahaman yang matang sebelum akhirnya terjun lebih dalam.
Kisahnya menjadi contoh bagaimana profesi apa pun, termasuk pengemudi ojol, bisa mengakses peluang investasi modern selama ada kemauan untuk belajar dan konsisten menjalankan strategi.