Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membangun 54 unit bangunan konservasi air untuk mengantisipasi kekeringan lahan pertanian akibat musim kemarau ekstrim. Pembangunan embung, dam parit, dan long storage ini difokuskan di sentra pertanian padi di Pulau Bangka dan Belitung. Langkah ini diambil menyusul menurunnya debit air di sejumlah bendungan irigasi yang mengancam produksi padi petani.
PANGKALPINANG — Ancaman gagal panen di tengah fenomena El Nino membuat Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bergerak cepat. Sebanyak 54 unit bangunan konservasi air telah dibangun di daerah-daerah sentra pertanian padi untuk memastikan ketersediaan air bagi tanaman.
Kepala DPKP Provinsi Kepulauan Babel, Kurniawan, mengatakan bangunan konservasi air yang terdiri dari embung, dam parit, dan long storage ini berfungsi sebagai tempat cadangan air. Dengan begitu, petani tidak kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk tanaman padi dan komoditas pangan lainnya.
Kekeringan akibat El Nino sudah mulai terasa di infrastruktur irigasi utama. Kurniawan menyebut debit air di Bendungan Metukul, Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan—yang merupakan sentra produksi padi di Pulau Bangka—mengalami penurunan signifikan.
Kondisi ini menjadi sinyal bahaya bagi petani. Jika tidak diantisipasi, produksi padi di daerah ini dipastikan terganggu dan berujung pada gagal panen.
Kurniawan mengimbau para petani untuk menggunakan air secara efektif dan efisien. Salah satu kuncinya adalah mengaktifkan kembali Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) agar pengaturan penyediaan air bisa dilakukan secara tepat dan adil selama musim kemarau panjang ini.
“Kami mengimbau petani gunakan varietas tahan kekeringan atau menanam komoditas yang lebih adaptif dan mengoptimalkan tanam padi gogo dengan menghindari pembakaran lahan selama musim kemarau ini,” ujar Kurniawan di Pangkalpinang, Kamis.
Selain mengandalkan bangunan konservasi, petani didorong melakukan adaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrem. Penggunaan bibit unggul yang tahan kekeringan menjadi salah satu pilihan utama.
Kurniawan juga meminta petani beralih ke komoditas yang lebih adaptif terhadap minimnya air serta mengoptimalkan pola tanam padi gogo. Ia menegaskan agar pembakaran lahan dihindari selama musim kemarau untuk mencegah risiko kebakaran hutan dan lahan yang semakin memperparah kondisi.