3 Langkah Antisipasi Petani Lada Belitung Hadapi Kemarau Panjang, Termasuk Kurangi Pupuk Kimia

Penulis: Sutomo  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:44:27 WIB
Petani lada di Belitung memanfaatkan pompa air untuk efisiensi penggunaan air menghadapi kemarau panjang.

TANJUNGPANDAN — Produksi lada di Kabupaten Belitung pada 2025 mencapai 3.831 ton dengan harga di tingkat petani Rp135.000 per kilogram. Angka ini menjadi taruhan besar bagi perekonomian daerah saat musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Kepala Bidang Perkebunan DKPP Belitung, Tenny Meireni, mengatakan keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para petani. Menurutnya, penggunaan air secara hemat menjadi kunci agar tanaman tetap bertahan.

Manajemen Air Jadi Prioritas Utama

Tenny menyarankan petani memaksimalkan fasilitas pompa air yang sudah tersedia di kebun masing-masing. Pasokan air yang terbatas mengharuskan setiap tetes digunakan secara efisien untuk menjaga kelembaban tanah di sekitar akar lada.

Langkah ini dinilai krusial mengingat tanaman lada rentan mengalami stres ketika kekurangan air dalam waktu berkepanjangan.

Mengapa Pupuk Kimia Justru Berisiko?

Selain efisiensi air, DKPP Belitung mengimbau para petani mengurangi dosis pupuk kimia atau menghentikannya sementara waktu. Tenny menjelaskan penggunaan pupuk kimia saat pasokan air terbatas justru dapat menyerap kandungan air dalam tanaman.

Kondisi itu berujung pada dehidrasi dan kekeringan pada tanaman lada. Sebagai gantinya, petani diarahkan untuk mengutamakan pupuk organik yang dinilai lebih aman menjaga ketahanan tanaman selama musim kemarau.

Tanaman Penutup Tanah untuk Jaga Kelembaban

DKPP juga merekomendasikan penanaman tanaman penutup tanah (cover crop) seperti kacang hias atau Arachis Pintoi di area kebun. Tanaman ini berfungsi menjaga kelembaban tanah sekaligus mengikat nitrogen bebas dari udara secara biologis.

Upaya mitigasi ini menjadi perhatian serius karena lada berkontribusi besar terhadap ekonomi Kabupaten Belitung. Dengan penerapan efisiensi air dan perawatan tanah yang tepat, kualitas serta produktivitas lada diharapkan tetap terjaga meski cuaca kemarau ekstrem melanda.

Reporter: Sutomo
Sumber: babel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top