KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Setiap anak memiliki cara berbeda dalam menjalin pertemanan. Ada yang lincah bergaul dengan siapa saja, ada pula yang lebih memilih satu atau dua sahabat karib. Perbedaan ini adalah hal yang normal, Bunda. Namun, di balik pilihan tersebut, tersimpan petunjuk menarik tentang kepribadian Si Kecil yang bisa Bunda pahami.
Anak dengan banyak teman umumnya merasa nyaman berada di tengah keramaian. Mereka cenderung percaya diri, mudah beradaptasi, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Sebuah studi tahun 2006 dalam Journal of Personality and Social Psychology bahkan mengungkap bahwa anak ekstrovert lebih mungkin memiliki jaringan pertemanan yang luas.
Namun, Bunda perlu waspada. Lingkar pertemanan yang besar tidak selalu berarti hubungan yang berkualitas. Penelitian dari Journal of Youth and Adolescence (2011) menemukan bahwa anak populer dengan kelompok besar justru lebih sering terpapar pengaruh negatif dari teman sebaya. Studi lain dalam Developmental Psychology bahkan mencatat bahwa jaringan pertemanan yang sangat besar namun kurang dekat dapat memicu stres lebih tinggi karena dukungan emosional yang diterima jadi lebih sedikit.
Di sisi lain, anak yang hanya punya satu atau dua teman dekat seringkali lebih penuh pertimbangan dan mengutamakan kedalaman hubungan. Mereka cenderung memiliki kecerdasan emosional yang baik. Studi dari Journal of Applied Developmental Psychology (2012) melaporkan bahwa anak dengan satu atau dua persahabatan kuat menunjukkan penyesuaian emosional yang lebih baik.
Kabar baiknya, penelitian dalam The Child Development Journal (2014) menemukan bahwa anak dengan sedikit teman tetapi berkualitas melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi dan rasa kesepian yang lebih rendah. Mereka juga mendapat dukungan teman sebaya yang lebih kuat saat menghadapi tekanan di sekolah, seperti yang diungkap studi dari Merrill-Palmer Quarterly.
Meski nyaman dengan lingkaran kecil itu sehat, Bunda tetap perlu jeli. Tidak semua anak yang pendiam adalah introvert. Penarikan diri dari lingkungan sosial yang terus-menerus bisa menjadi tanda kecemasan atau depresi. Studi dari Journal of Abnormal Child Psychology (2005) menegaskan bahwa penolakan teman sebaya yang berkepanjangan dapat memprediksi tingkat kesepian yang lebih tinggi saat remaja.
Yang terpenting adalah dukungan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang cenderung menarik diri tetap aman dari risiko depresi jika mendapat dukungan kuat dari orang tua dan mentor. Jadi, kunci utamanya adalah pendampingan Bunda, bukan memaksa anak menjadi lebih sosial.
Daripada fokus pada "berapa banyak" teman, perhatikan "bagaimana kualitas" pertemanan anak. Apakah Si Kecil terlihat bahagia, nyaman, dan didukung oleh teman-temannya? Sebaliknya, apakah ia tampak tertekan atau justru mengikuti perilaku berisiko demi diterima kelompok?
Setiap anak punya kebutuhan sosial yang berbeda. Sebagai orang tua, tugas Bunda adalah menyediakan lingkungan yang aman untuk bereksplorasi, mendengarkan keluh kesahnya, dan membantu ia membangun hubungan yang sehat—baik dengan banyak teman maupun sedikit sahabat dekat. Yang pasti, setiap pilihan pertemanan anak adalah bagian dari prosesnya menemukan jati diri. Dampingi dengan hangat, ya Bunda.