KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kabar kembalinya Top Gear sejatinya sudah ditunggu para penggemar otomotif global. Namun, nama Jimmy Carr yang dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk menjadi pembawa acara justru menuai kekhawatiran. Produser dinilai gagal menangkap esensi yang menjadikan Top Gear fenomena global, bukan sekadar tontonan mobil biasa.
Penggemar mungkin bermimpi melihat klon Jeremy Clarkson, Richard Hammond, dan James May kembali memandu. Teknologi untuk itu jelas belum ada. Yang bisa dilakukan BBC adalah mereplikasi formula yang dulu terbukti: perpaduan pengetahuan otomotif yang dalam dengan dinamika humor yang tajam di antara para pembawa acara.
Musim-musim akhir era trio original memang sarat aksi dan petualangan untuk menarik penonton kasual. Elemen itulah yang membuat Top Gear nyaman ditonton lintas kalangan, tanpa meninggalkan basis penggemar setia yang haus ulasan teknis dan otomotif murni.
BBC pernah mencoba jalur berbeda dengan menggandeng Matt LeBlanc, bintang serial "Friends", usai kepergian trio original. Strategi mengandalkan nama besar selebriti Hollywood itu nyatanya tidak mampu mengangkat kembali pamor Top Gear di kancah pop culture global. Kini, kecenderungan yang sama tampak berulang.
Alih-alih kembali ke akar jurnalisme otomotif, BBC justru disebut akan menggantungkan diri pada hiruk-pikuk Formula 1 (F1), satu-satunya wajah industri otomotif yang masih relevan di budaya mainstream. Namun, mencari mantan pembalap F1 yang cocok memandu Top Gear bukan perkara mudah.
Pembalap F1 yang mau berkarier di layar kaca umumnya sudah menjalani pelatihan media yang keras. Mereka cenderung berhati-hati dalam berbicara dan enggan bersinggungan dengan produsen mobil mana pun. Sikap steril seperti ini justru bertolak belakang dengan karakter Top Gear yang dikenal blak-blakan dan bisa “menghajar” mobil jelek tanpa kompromi.
Daripada mencari presenter dengan wajah populer, BBC disarankan mempertimbangkan profesi di belakang layar: insinyur balap atau race engineer. Sosok seperti Peter "Bono" Bonnington (insinyur Lewis Hamilton) atau Gianpiero "GP" Lambiase (insinyur Max Verstappen) kini mulai dikenal berkat kesuksesan timnya.
Mereka bukan bintang televisi, tetapi punya pengalaman dan pengetahuan teknis mumpuni soal mobil serta industri otomotif secara menyeluruh. Yang lebih penting, mereka tidak terikat kontrak sponsor atau hubungan bisnis dengan merek tertentu, sehingga bisa memberikan ulasan yang jujur dan kritis.
Seorang race engineer yang blak-blakan dan tidak takut bicara apa adanya berpotensi menjadi sosok pembawa Top Gear era baru yang segar dan kredibel. Sah saja jika ide ini terdengar tidak biasa, tetapi justru pendekatan tidak lazim yang mungkin dibutuhkan untuk menghidupkan kembali nyala Top Gear.
Menurut Anda, siapa yang paling pantas memandu Top Gear versi reboot? Bagikan rekomendasi Anda di kolom komentar.