KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Langkah ini menyusul keputusan VinFast menjual dua pabrik utamanya dan mengalihkan utang sekitar US$7 miliar atau Rp122,8 triliun ke investor terafiliasi Vingroup dan Pham Nhat Vuong. Perusahaan menyebut pergeseran ke model bisnis lebih ringan aset ini akan mempertajam fokus pada riset dan pengembangan produk.
Sepanjang 2025, VinFast mencatat rugi bersih US$3,9 miliar atau sekitar Rp68,4 triliun dengan kurs Rp17.536. Akumulasi kerugian sejak melantai di bursa Nasdaq tiga tahun lalu menembus US$9 miliar atau sekitar Rp157,8 triliun.
Meski demikian, VinFast tetap menjadi produsen mobil terlaris di Vietnam pada 2025. Pengiriman EV global mencapai rekor 196.919 unit, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Pasar di luar Vietnam baru menyumbang sekitar 11 persen dari total pengiriman tersebut. Angka ini menjelaskan mengapa perusahaan kini mengalihkan fokus ke Asia, termasuk India, Indonesia, dan Filipina, setelah kesulitan meraih skala besar di Amerika Serikat dan pasar Barat lain.
Khusus di India, VinFast berencana mengembangkan produk yang disesuaikan dengan permintaan lokal. Strategi serupa berpotensi diterapkan di Indonesia dan Filipina, dua pasar yang disebut perusahaan sebagai tujuan ekspansi utama di kawasan.
Fokus ke Asia ini menjadi sinyal bahwa VinFast tidak lagi mengejar volume di pasar Barat yang sudah jenuh dan kompetitif. Sumber daya dialihkan ke negara dengan pertumbuhan EV tinggi dan basis konsumen yang lebih mudah dijangkau dari Vietnam.
Pham Nhat Minh Hoang (26), putra kedua Vuong, naik jabatan menjadi CEO baru GSM (Green and Smart Mobility). Ini menjadi peran eksekutif puncak pertama Minh Hoang di perusahaan besar Vingroup.
GSM adalah operator taksi dan tumpangan listrik yang beroperasi di tujuh negara, termasuk Indonesia. Perusahaan berusia tiga tahun ini telah menjadi pembeli penting bagi VinFast, dengan rencana membeli sekitar 1 juta unit EV dan 4 juta skuter listrik hingga 2030.
CEO GSM saat ini, Nguyen Quoc Tuan, naik menjadi chairman GSM, menggantikan Pham Thu Huong, istri Vuong. GSM juga berencana ekspansi ke setidaknya tiga negara baru tahun ini sekaligus menyasar pencatatan saham internasional.
Vingroup menyebut perombakan ini sebagai bagian dari pengembangan talenta internal dan pengalihan tanggung jawab kepemimpinan ke generasi yang lebih muda.
Vuong (58) disebut tetap aktif terlibat di bisnis yang ia dirikan dan tetap menjabat chairman Vingroup. Kursi CEO Vingroup tetap dipegang Nguyen Viet Quang. Kekayaan Vuong tercatat US$37,9 miliar atau setara Rp664,6 triliun menurut Forbes, menjadikannya orang terkaya di Asia Tenggara.
Vinhomes, unit properti Vingroup yang tetap dikelola profesional oleh Chairman Pham Thieu Hoa dan CEO Nguyen Thu Hang, membukukan laba bersih 52 triliun dong atau sekitar Rp35,1 triliun pada semester I 2026. Angka ini sekitar 2,5 kali laba Vingroup dan menjadi penopang utama laba grup di tengah kerugian VinFast.
Quan Anh dalam pernyataannya menegaskan komitmen untuk menjaga nilai inti VinFast sekaligus terus menghadirkan produk dan standar layanan terbaik bagi pelanggan di seluruh dunia.