KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Édouard Mendy menegaskan gelar Piala Afrika bersama Senegal jauh lebih berkesan dibanding trofi Liga Champions yang diraihnya bersama Chelsea pada 2021. Kiper berusia 34 tahun itu baru saja mengumumkan pensiun dari tim nasional setelah 59 caps, meski sempat ditelepon pelatih baru Patrick Vieira agar mempertimbangkan ulang.
Penjaga gawang yang kini memperkuat Al-Ahli itu menyebut gelar Piala Afrika 2021 sebagai momen terbaik sepanjang kariernya. Senegal kala itu mengalahkan Mesir lewat adu penalti untuk meraih trofi pertama mereka di turnamen tersebut.
Mendy juga menegaskan dirinya tetap menganggap Senegal juara Piala Afrika 2025, meski Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menganulir hasil final dan memberikan kemenangan 3-0 kepada Maroko. Sidang awal banding Senegal di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss dijadwalkan berlangsung bulan depan.
Dalam final di Stade Prince Moulay Abdellah, Rabat, Mendy sempat menerima kartu kuning setelah penundaan 17 menit. Sebagian besar pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai protes atas keputusan wasit Jean-Jacques Ndala yang menghukum El Hadji Malick Diouf usai sepak pojok Maroko.
Senegal juga sempat dianulir golnya beberapa menit sebelumnya. Mendy mengeluh soal handuknya yang diambil Ismael Saibari dan sinar laser yang diarahkan ke matanya dari tribun, namun keluhannya tidak digubris.
Di tengah tekanan itu, Brahim Diaz dari Real Madrid maju sebagai eksekutor penalti. Mendy mengaku membaca gerakan lawan dua langkah sebelum tendangan dilepas.
"Saya sadar dua langkah sebelum dia menembak. Biasanya kalau pemain melakukan Panenka, mereka melambat di langkah terakhir, tapi saya lihat dia melakukannya lebih awal," ujar Mendy. "Saya tahu sisi favoritnya ke kanan. Begitu saya lihat dia melambat jauh sebelum tendangan, saya berdiri dan berhasil menangkap bola."
Empat menit memasuki babak tambahan, gol Pape Gueye memastikan Senegal meraih gelar juara Afrika kedua dalam empat tahun. Namun lebih dari tujuh bulan kemudian, CAF menganulir hasil tersebut karena menilai Senegal mengundurkan diri dari lapangan.
Mendy menuturkan dirinya sempat mempertimbangkan tawaran Vieira untuk kembali memperkuat Senegal. Namun setelah berpikir beberapa hari, ia memutuskan tetap pada pendiriannya.
"Dia legenda, jadi punya kesempatan bekerja dengannya benar-benar terlintas di pikiran saya. Tapi di akhir panggilan saya minta waktu untuk memikirkan semuanya," kata Mendy. "Beberapa hari kemudian saya menelepon dia dan menjelaskan bahwa saya ingin tetap pada keputusan saya. Saya mulai memikirkannya setelah Piala Afrika dan sampai pada kesimpulan ini waktunya berhenti."
Keputusan pensiun itu diambil Mendy di usia 34 tahun, setelah mencatat 59 caps bersama Teranga Lions. Ia berharap generasi berikutnya seperti Lamine Camara dari Monaco dan Ibrahim Mbaye dari Aston Villa bisa mengikuti jejaknya.
Mendy pernah menjadi bagian Chelsea saat menjuarai Liga Champions 2021, delapan bulan sebelum Senegal juara Piala Afrika 2022. Ia juga baru saja meraih gelar Liga Champions Asia kedua berturut-turut bersama Al-Ahli.
"Gelar Piala Afrika adalah momen terbaik dalam karier sepak bola saya, 10 kali lebih baik dibanding Liga Champions. Saya bisa membandingkan sekarang karena saya juga sudah menang Liga Champions Asia dua kali," ujar Mendy.
"Menang untuk klub itu luar biasa. Tapi tidak bisa dibandingkan dengan menang untuk negara, apalagi ketika mereka belum pernah menang apa pun sebelumnya. Itu hanya terjadi sekali seumur hidup."
Mendy juga masuk nominasi trofi Yashin tahun ini bersama Gianluigi Donnarumma, setelah sebelumnya kalah dari kiper Italia itu pada 2021. Ia menyebut pencapaian tersebut berarti besar baginya meski kini bermain di Arab Saudi.
"Masuk nominasi trofi Yashin sementara saya bermain di Arab Saudi sangat berarti. Perjalanan saya tidak mudah, semuanya soal kerja keras dan ketahanan. Ketika saya lihat kiper-kiper di Senegal memakai jersey nomor 16, saya sangat bangga," tuturnya.