KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyatakan industri pariwisata memasuki era tourism 5.0, di mana teknologi seperti AI dan big data berperan menciptakan pengalaman liburan yang lebih personal. Sebanyak 52 persen wisatawan milenial dan Gen Z bersedia membayar lebih untuk pengalaman wisata berkualitas. Pergeseran ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi destinasi wisata Indonesia.
Kementerian Pariwisata menilai preferensi wisatawan berubah signifikan. Liburan tidak lagi sekadar mengunjungi destinasi populer, melainkan mencari pengalaman autentik yang menyentuh nilai personal.
Perubahan perilaku paling kentara pada generasi milenial dan Gen Z. Data yang dipaparkan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menunjukkan 52 persen dari mereka rela merogoh kocek lebih dalam demi pengalaman wisata yang berkualitas.
Ni Luh Puspa menyebut era tourism 5.0 menempatkan teknologi sebagai fondasi layanan pariwisata. AI, big data, dan internet of things dipakai untuk merancang pengalaman yang lebih relevan bagi tiap wisatawan.
"Kita juga memasuki era tourism 5.0, di mana teknologi, AI, big data, dan internet of things menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman pariwisata yang lebih personal dan juga relevan, termasuk dalam event dan MICE," kata Ni Luh seperti dikutip dari Antara, Jumat (25/9/2026).
Bagi traveler, implikasinya terasa pada rekomendasi destinasi yang makin presisi. Mulai dari saran itinerary, pemilihan akomodasi, hingga penjadwalan event berbasis minat pribadi.
Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada semester I 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan. Angka itu naik 5,71 persen dibanding periode sama 2025.
Pergerakan wisatawan nusantara jauh lebih besar, mencapai 630,41 juta perjalanan sepanjang semester I 2026. Khusus Juli 2026, pergerakan domestik menyentuh 107,4 juta perjalanan atau tumbuh 7,23 persen secara tahunan.
Lonjakan ini menegaskan pasar domestik tetap menjadi tulang punggung pariwisata nasional. Wisatawan lokal makin aktif menggelar perjalanan singkat di akhir pekan dan libur panjang.
Ni Luh Puspa mendorong pelaku industri memperkuat kesiapan destinasi dan konektivitas. Integrasi teknologi harus dibarengi peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lapangan.
"Pada akhirnya nilai baru pariwisata Indonesia terletak pada kemampuan kita mengubah setiap event menjadi pengalaman dan setiap pengalaman menjadi nilai. Nilai tersebut harus terlihat pada ekonomi yang bergerak, lapangan kerja yang tercipta, budaya yang semakin dikenal, lingkungan yang tetap terjaga dan reputasi Indonesia yang semakin kuat," ucapnya.
Pesan ini relevan bagi pengelola desa wisata, hotel, hingga penyelenggara event. Pengalaman bermakna menuntut pelayanan yang konsisten, bukan sekadar promosi visual di media sosial.
Bagi traveler yang merencanakan liburan akhir tahun, momentum semester II 2026 bisa dimanfaatkan untuk mencoba destinasi sekunder. Pengalaman personal yang autentik biasanya lahir dari tempat yang belum ramai dikunjungi.