Investasi ACV Capital di Waste4Change Raih ESG Award dari SVCA

Penulis: Sutomo  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 14:07:01 WIB
ACV Capital menerima ESG Award of Distinction dari SVCA atas investasinya di Waste4Change.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — ACV Capital meraih ESG Award of Distinction dari Singapore Venture & Private Capital Association atas investasinya di Waste4Change sejak 2019. Penghargaan diserahkan dalam SVCA Annual Gala & Awards Dinner di Singapura pada 30 September 2026, dipilih panel juri independen dari 32 nominasi di delapan kategori.

Waste4Change mencatatkan pengumpulan 38,62 juta kilogram material sepanjang 2025. Dari jumlah itu, 9,14 juta kilogram berhasil dipulihkan kembali ke rantai ekonomi.

Institute for Global Environmental Strategies (IGES) menghitung aktivitas pemulihan material Waste4Change berkontribusi pada pengurangan emisi sekitar 16.922 ton CO?e. Angka itu menjadi salah satu indikator yang membuat panel juri independen SVCA memilih ACV Capital sebagai penerima penghargaan.

Skala Operasional Waste4Change Saat Ini

Perusahaan yang berdiri pada 2014 tersebut kini mengelola sekitar 120 ton material per hari. Kapasitas itu ditopang lima fasilitas yang dikelola sendiri dan 12 fasilitas mitra di berbagai wilayah Indonesia.

Basis pelanggannya mencakup lebih dari 1.000 klien bisnis dan 34.200 pelanggan rumah tangga. Waste4Change juga telah menjalankan lebih dari 540 proyek dan program pelatihan, termasuk lebih dari 100 studi riset, serta menempatkan 76 mesin pengelolaan sampah di sejumlah daerah.

Mengapa Model Bisnis Ini Menarik Modal Swasta

Managing Partner ACV Capital Helen Wong menyebut Waste4Change mengembangkan model bisnis yang menjawab persoalan pengelolaan sampah sekaligus menciptakan nilai lingkungan dan ekonomi.

"Sejak awal, kami di ACV Capital melihat potensi model bisnis ini untuk berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan sampah yang lebih efisien di Indonesia," kata Helen.

Menurut dia, pertumbuhan Waste4Change menunjukkan peluang bagi modal swasta untuk mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. ACV Capital pertama kali menanam modal di Waste4Change pada 2019 untuk mendukung pengembangan bisnis dan perluasan layanan pengelolaan sampah.

Data Terukur Jadi Pertimbangan Juri

CEO SVCA Sharon Lim menilai ACV Capital mampu menunjukkan data terukur atas pencapaian Waste4Change sejak investasi dilakukan. Data itu yang membedakan nominasi ACV Capital dari peserta lain.

Penghargaan ESG tersebut diserahkan dalam SVCA Annual Gala & Awards Dinner di Singapura pada 30 September 2026. Panel juri independen memilih pemenang dari 32 nominasi yang terbagi dalam delapan kategori penghargaan dan satu kategori special mention.

Infrastruktur dan Teknologi Jadi Kunci Ekspansi

Waste4Change memperluas kapasitas pengelolaan sampah lewat fasilitas pemulihan material, pengolahan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF) dan biomassa, serta teknologi digital untuk memantau proses dari pengumpulan hingga pemulihan material.

Untuk ketertelusuran, perusahaan memakai sistem digital guna melacak dan melaporkan dampak. Pada 2025, sebanyak 4,2 juta kilogram material yang dipulihkan tercakup dalam proses kredit sampah terverifikasi yang selaras dengan standar Verra.

Sistem tersebut juga membantu klien memantau dampak lingkungan serta memenuhi target ESG dan ketentuan Extended Producer Responsibility (EPR). Bagi pelaku bisnis, layanan semacam ini makin relevan seiring menguatnya tuntutan pelaporan keberlanjutan dari mitra dagang dan regulator.

Prinsip ESG di Setiap Tahap Investasi

ACV Capital menyatakan menerapkan prinsip ESG di setiap tahapan investasi, mulai dari screening dan due diligence hingga pemantauan perusahaan portofolio. Indikator yang dipantau mencakup pengurangan emisi, pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, penciptaan lapangan kerja, dan inklusi.

Pendekatan itu menjadikan pengelolaan sampah sebagai sektor yang mulai dilirik investor ventura di Asia Tenggara. Kebutuhan infrastruktur pengolahan sampah di Indonesia yang masih besar menjadi alasan utama masuknya modal ke sektor ini.

Reporter: Sutomo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top