KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Luke Vickery mengaku kesulitan melukiskan perasaannya setelah Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Final melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno harus diselesaikan lewat adu penalti setelah kedudukan 2-2 bertahan sepanjang 120 menit.
Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi pengalaman pertama Vickery bersama Timnas Indonesia. Pemain yang baru menjalani turnamen perdananya bersama Garuda itu menyebut laga final sebagai pertandingan yang nyaris mustahil dirangkum dalam satu kalimat.
Sepanjang turnamen, Vickery menyumbang sejumlah gol dan assist. Kontribusi itu membuatnya ikut menjadi bagian dari perjalanan Indonesia mengakhiri penantian 35 tahun untuk trofi di kawasan Asia Tenggara.
Final di Stadion Utama Gelora Bung Karno berjalan ketat sejak awal. Kedua tim saling bergantian menekan, dan skor 2-2 bertahan hingga waktu normal berakhir. Karena tidak ada gol tambahan di babak perpanjangan, juara harus ditentukan melalui adu penalti.
Vickery mengakui pertandingan tersebut menghadirkan begitu banyak emosi. Menurutnya, momentum yang berubah-ubah membuat para pemain sulit menjaga ketenangan.
"Sulit untuk menggambarkan pertandingan seperti ini. Ada begitu banyak emosi, begitu banyak perubahan momentum," ujar Vickery, dikutip dari laman resmi FIFA.
Vickery menegaskan pencapaian individunya bukan yang utama. Meski ingin terus berkembang setelah turnamen pertamanya bersama Timnas Indonesia, ia menempatkan gelar juara sebagai hal yang paling berarti.
"Saya ingin terus berkembang. Saya mencetak sejumlah gol dan memberikan sejumlah assist di turnamen ini. Namun, pada akhirnya, kami keluar sebagai juara dan hanya itu yang terpenting," kata Vickery.
Perjuangan seluruh pemain selama turnamen terasa semakin berarti setelah ditutup dengan gelar juara. Bagi Vickery, momen mengangkat trofi bersama Timnas Indonesia menjadi pembuktian bahwa kerja keras sepanjang kompetisi tidak sia-sia.