KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahaya telur mentah untuk bayi karena risiko infeksi bakteri Salmonella yang bisa berujung serius. Simak penjelasan lengkap soal risiko kesehatan ini dan cara bijak menghadapi perbedaan pola asuh dengan kakek-nenek.
Pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi masih sering dilakukan dengan alasan agar anak cepat kuat dan tumbuh pesat. Padahal, praktik ini menyimpan risiko infeksi bakteri Salmonella yang bisa membahayakan kesehatan si kecil.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menegaskan telur mentah tidak dianjurkan untuk bayi dan anak karena berisiko terhadap keamanan pangan. Prinsipnya, keselamatan anak harus selalu didahulukan di atas tradisi apa pun.
Telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada bayi yang sistem imunnya belum sempurna. Infeksi ini bisa memicu diare hebat, demam tinggi, hingga dehidrasi yang berbahaya.
Banyak orang tua memberikan telur mentah dengan niat menambah kekuatan atau mempercepat pertumbuhan anak. Sayangnya, niat baik tersebut tidak sejalan dengan rekomendasi medis terkini.
Praktik pengasuhan yang diwariskan turun-temurun sering dilakukan atas dasar pengalaman dan kasih sayang. Namun, tidak semua praktik tersebut sesuai dengan rekomendasi medis saat ini.
Piprim mengingatkan bahwa ilmu kedokteran terus berkembang. Praktik yang dahulu dianggap baik belum tentu terbukti aman berdasarkan pengetahuan medis sekarang.
"Kita tentu perlu menghormati orang tua dan kakek-nenek, karena pada umumnya mereka memberikan nasihat berdasarkan pengalaman dan rasa sayang kepada cucunya," kata Piprim, melansir Antara.
Orang tua perlu menyampaikan pemahaman mengenai kesehatan bayi secara santun ketika menemukan praktik pengasuhan yang berpotensi membahayakan anak. Diskusi yang hangat jauh lebih efektif daripada konfrontasi.
Piprim menyarankan orang tua mengajak kakek-nenek berdiskusi mengenai cara merawat bayi. Jika perlu, konsultasikan bersama dokter anak agar semua pihak mendapat informasi yang sama.
"Prinsipnya, tradisi yang baik tentu boleh dipertahankan, tetapi apabila suatu praktik berpotensi membahayakan kesehatan anak, maka keselamatan anak harus didahulukan," ujarnya.
Pengasuhan bayi merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam perawatannya. Kakek-nenek perlu dilibatkan dalam memperoleh informasi kesehatan yang tepat.
"Kami di IDAI mengajak seluruh keluarga, termasuk kakek-nenek, untuk bersama-sama merawat anak berdasarkan kasih sayang yang dilandasi ilmu pengetahuan," kata Piprim.
Rasa sayang kepada cucu perlu disertai pemahaman mengenai keamanan tindakan yang diberikan, termasuk dalam hal pemberian makanan dan perawatan sehari-hari.
Jika bayi sudah terlanjur mengonsumsi telur mentah atau setengah matang, segera perhatikan tanda-tanda infeksi seperti diare, muntah, demam, atau lemas. Bawa ke dokter anak terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pastikan setiap praktik perawatan dan pemberian makanan kepada bayi sesuai dengan usia serta rekomendasi tenaga kesehatan. Jangan ragu berkonsultasi jika ada perbedaan pemahaman dalam keluarga.
Menghormati kakek-nenek dan menjaga keselamatan bayi bisa berjalan beriringan. Kuncinya adalah komunikasi yang santun dan informasi medis yang akurat, agar si kecil tumbuh sehat dengan kasih sayang seluruh keluarga.