Abu Dhabi Pakai Algoritma Cincin Pintar Ultrahuman untuk Aplikasi Kesehatan Sahatna

Penulis: Saiful  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:37:02 WIB
Pemerintah Abu Dhabi menggandeng Ultrahuman untuk mengintegrasikan algoritma cincin pintar ke aplikasi kesehatan nasional Sahatna.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pemerintah Abu Dhabi menggandeng Ultrahuman untuk menyuntikkan algoritma cincin pintarnya ke aplikasi kesehatan nasional Sahatna. Lewat kerja sama ini, pengguna bisa melihat "usia biologis" mereka berdasarkan analisis tidur, jantung, dan penanda darah. Sistemnya bersifat lintas perangkat, jadi tidak wajib memakai cincin pintar Ultrahuman.

Abu Dhabi Public Health Centre (ADPHC) resmi menjalin kemitraan dengan Ultrahuman, produsen cincin pintar asal India. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat aplikasi kesehatan nasional mereka, Sahatna, dengan kemampuan analisis data yang biasanya hanya tersedia di perangkat wearable.

Sahatna sendiri merupakan aplikasi yang memungkinkan warga Uni Emirat Arab mengelola kesehatan mereka secara terpusat. Mulai dari berkonsultasi dengan dokter hingga mengakses rekam medis dan data genetika. Dengan tambahan teknologi dari Ultrahuman, aplikasi ini naik kelas dari sekadar penyimpan data menjadi alat analisis kesehatan proaktif.

Fitur Baru: Mengukur Usia Biologis

Fitur paling menonjol yang dihadirkan adalah kemampuan menampilkan "usia biologis" pengguna. Angka ini berbeda dengan usia kronologis yang tercatat di KTP. Usia biologis mencerminkan seberapa "tua" tubuh seseorang secara fungsional berdasarkan kondisi kesehatan aktual.

Perhitungan ini berasal dari metrik bernama Ultra Age milik Ultrahuman. Algoritma tersebut menganalisis kualitas tidur, kesehatan kardiovaskular, hingga penanda darah (blood markers) menjadi satu skor tunggal. Hasilnya memberi gambaran menyeluruh tentang bagaimana gaya hidup seseorang memengaruhi kondisi tubuh mereka.

Yang menarik, sistem ini bersifat device agnostic atau lintas perangkat. Artinya, pengguna tidak diwajibkan membeli cincin pintar Ultrahuman untuk menikmati fitur ini. Data dari perangkat wearable lain yang sudah terhubung ke Sahatna pun bisa diolah oleh algoritma yang sama.

Mengapa Langkah Ini Penting bagi Industri Wearable

Selama ini, data dari perangkat wearable sering diabaikan oleh kalangan medis dan regulator. Dokter cenderung meragukan akurasi data konsumen dibandingkan alat medis standar. Namun, tren mulai bergeser ketika pemerintah mulai melihat nilai data ini untuk kesehatan populasi.

ADPHC berharap sistem baru ini membantu masyarakat memahami korelasi antara pola hidup dan risiko penyakit jangka panjang. Model yang menggabungkan data klinis dan data wearable ini dinilai mampu mendukung intervensi dini, strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran, serta rekomendasi kesehatan yang lebih personal.

Meski demikian, masih ada tanda tanya soal privasi. Belum jelas apakah pemerintah akan menggunakan data ini untuk mengidentifikasi individu tertentu yang dianggap butuh intervensi medis langsung, atau apakah keputusan tersebut tetap berada di tangan pengguna. Hingga kini, belum ada keterangan resmi soal detail teknis pengelolaan data tersebut.

Dampak ke Pengguna Indonesia

Kerja sama ini menjadi sinyal bahwa integrasi data wearable ke layanan kesehatan publik bakal jadi arah baru. Di Indonesia, aplikasi seperti SatuSehat sudah mulai merintis integrasi rekam medis digital. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin data dari smartwatch atau smart ring lokal bisa turut diolah untuk keperluan skrining kesehatan.

Bagi pengguna Ultrahuman di Indonesia, fitur Ultra Age sebenarnya sudah bisa diakses lewat aplikasi mereka sendiri. Namun, validasi dari lembaga kesehatan pemerintah seperti yang dilakukan ADPHC memberi bobot kredibilitas berbeda. Ini bisa menjadi pembeda saat memilih perangkat wearable untuk keperluan pemantauan kesehatan jangka panjang.

Ultrahuman sendiri belum mengumumkan apakah model kemitraan serupa akan diperluas ke negara lain. Untuk saat ini, proyek di Abu Dhabi menjadi uji coba pertama bagaimana algoritma cincin pintar dipakai di level kebijakan kesehatan publik.

Reporter: Saiful
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top