PANGKALPINANG — Kepala Perum Bulog Cabang Bangka, Dimas Wage Tantri, menyatakan penyerapan gabah kering sepanjang Januari–September 2026 menyentuh 4.500 ton. Realisasi itu setara 67 persen dari target 6.600 ton yang ditetapkan untuk wilayah Bangka Belitung.
Gabah diserap dari petani di empat kabupaten: Bangka Selatan, Bangka, Bangka Barat, dan Bangka Tengah. Penyerapan dilakukan untuk menjaga harga gabah di tingkat petani agar tidak jatuh saat panen raya.
Masuk musim panen kedua September 2026, setoran gabah ke Bulog justru menurun. Musim kemarau panjang dan kering membuat petani sulit mendapat air untuk lahan pertaniannya.
Dimas menyebut fenomena iklim El Nino berdampak langsung pada hasil panen padi. Produksi turun, sehingga petani memilih tidak lagi menjual hasil panennya ke Bulog.
"Kita sudah melaporkan kondisi ini ke pusat, bahwa kami untuk sementara ini tidak lagi melakukan penyerapan hasil panen gabah kering petani di daerah ini," kata Dimas di Pangkalpinang, Rabu.
Bulog memperkirakan musim tanam panen ketiga tahun ini berlangsung November hingga Desember 2026. Musim itu diharapkan mengembalikan hasil panen padi petani di Pulau Bangka, terutama Kabupaten Bangka Selatan yang jadi sentra penghasil beras di Kepulauan Babel.
"Kita berharap pada musim panen awal 2027 nanti hasil panen padi petani kembali meningkat, sehingga dapat meningkatkan serapan gabah kering petani di daerah ini," ujar Dimas.
Penyerapan gabah oleh Bulog di Bangka selama ini jadi salah satu penopang ketahanan pangan daerah. Dimas menyatakan penyerapan gabah petani diharapkan turut meningkatkan perekonomian warga setempat.
"Kita berharap penyerapan gabah petani ini dapat meningkatkan perekonomian dan menjaga ketahanan pangan masyarakat," katanya.