Pencarian

48 Desa Devisa Diresmikan di Bangka Belitung, Kemenkeu Satu Dorong Ekspor Lada dan Kerajinan Lidi Nipah

Selasa, 08 September 2026 • 14:02:01 WIB
48 Desa Devisa Diresmikan di Bangka Belitung, Kemenkeu Satu Dorong Ekspor Lada dan Kerajinan Lidi Nipah
LPEI dan DJPb Kementerian Keuangan meresmikan 48 Desa Devisa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mendorong ekspor komoditas lokal.

PANGKALPINANG — Potensi ekspor Bangka Belitung tidak lagi bertumpu pada kawasan industri dan perusahaan besar. Kini, desa-desa di provinsi itu didorong menembus pasar global melalui komoditas lada putih, kerajinan lidi nipah, hingga produk olahan hasil laut.

LPEI/Indonesia Eximbank bersama DJPb Kementerian Keuangan meresmikan 48 Desa Devisa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (28/8/2026). Program ini menjadi bagian dari sinergi Kemenkeu Satu untuk membangun kapasitas ekspor dari tingkat desa sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih beragam.

Komoditas Apa Saja yang Diusung?

Seluruh desa yang ditetapkan memiliki kekuatan pada tiga klaster komoditas unggulan. Masing-masing punya karakter produk dan basis pelaku usaha yang berbeda, sehingga pengembangannya perlu disesuaikan dengan potensi lokal.

  • Lada putih — komoditas rempah khas yang telah lama dikenal di pasar internasional
  • Kerajinan lidi nipah — produk bernilai tambah dari bahan alam khas pesisir
  • Olahan perikanan — memanfaatkan hasil laut yang melimpah di wilayah kepulauan

Mengapa Desa Jadi Fokus Baru Ekspor?

Selama ini, perhatian terhadap potensi ekspor lebih banyak tertuju pada kawasan industri. Padahal, desa-desa di Bangka Belitung menyimpan produk yang memiliki peluang menjangkau pasar global jika didukung kapasitas produksi dan kualitas yang konsisten.

Tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha di desa adalah tata kelola usaha dan akses pasar. Melalui penetapan Desa Devisa, pemerintah berupaya menjembatani persoalan tersebut dengan pendampingan dan pembiayaan yang lebih terarah.

Sinergi Kemenkeu Satu di Lapangan

Kolaborasi LPEI dan DJPb dalam program ini menunjukkan pendekatan lintas instansi untuk menggarap potensi ekonomi daerah. LPEI membawa mandat pembiayaan ekspor, sementara DJPb memiliki jaringan hingga ke kantor pelayanan perbendaharaan di daerah.

Peresmian yang berlangsung di Alun-alun Taman Merdeka itu diharapkan menjadi titik awal pengembangan ekosistem ekspor yang lebih inklusif. Dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan, produk desa diharapkan mampu bersaing di pasar internasional.

Follow belitungsatu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ipol.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks