JAKARTA — Keindahan pantai dan alam Bangka Belitung menyimpan lapisan sejarah yang tak cukup terekam melalui gambar. Lewat narasi tertulis, tradisi lisan, dan karya sastra, karakter masyarakat setempat dapat diperkenalkan secara utuh kepada khalayak luas. Pendekatan ini memberi "nyawa" pada setiap destinasi wisata, sehingga daya tariknya bertahan lama—bukan sekadar pemandangan sesaat.
Kisah Pantai Parai Tenggiri yang Tak Terekam Foto
Dr. Yan Megawandi mencontohkan riwayat penamaan Pantai Parai Tenggiri yang berkaitan dengan masa penawanan Presiden Soekarno di Mentok. Peristiwa bersejarah itu tak dapat dipahami utuh jika hanya mengandalkan dokumentasi visual.
"Kalau dengan tulisan dan sastra, kita lebih dapat meresapi maknanya daripada sekadar melihat foto visual saja," ungkap Dr. Yan dalam siaran Suara Budaya Nusantara.
Dialog bertajuk "Mengenalkan Bangka Belitung Melalui Tulisan dan Sastra" itu dipandu Wandasona dari RRI Sungailiat dan Jo Adithya dari RRI Jakarta, berlangsung pukul 13.00–14.00 WIB.
Berburu Waktu Menyelamatkan Warisan Lisan
Dr. Yan menyoroti ancaman kepunahan yang dihadapi berbagai tradisi lisan: cerita rakyat, pengobatan tradisional, hingga resep kuliner khas daerah. Tanpa pendokumentasian serius, pengetahuan lokal itu bisa sirna sebelum sempat diwariskan.
"Kita sebenarnya sedang berburu dengan waktu untuk menyelamatkan tradisi lisan dari nenek moyang agar tidak hilang begitu saja," tegasnya.
Pembukuan dan perekaman menjadi langkah konkret. Dua cara itu dinilai mampu menjadi benteng utama menjaga keutuhan warisan pengetahuan lokal bagi generasi mendatang.
Novel Laskar Pelangi: Bukti Sastra Menggerakkan Pariwisata
Kekuatan literasi dalam mempromosikan daerah telah dibuktikan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisah perjuangan anak-anak Melayu dan Tionghoa di Belitung itu berhasil membangkitkan minat jutaan orang untuk berkunjung dan mengenal lebih dekat wilayah tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan emosional sebuah cerita mampu melampaui efektivitas promosi pariwisata konvensional. Sastra, dengan demikian, menjadi magnet berdampak panjang bagi sektor pariwisata.
Sinergi Media dan Akademisi untuk Dokumentasi Budaya
Ke depan, media cetak dan platform digital perlu dipadukan agar akses generasi muda terhadap materi budaya semakin mudah. Pendokumentasian berkelanjutan akan memastikan tradisi lisan tidak kehilangan jejak di tengah arus modernisasi.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan institusi media seperti RRI disebut krusial untuk menjaga kelestarian aset kebudayaan daerah. Dengan merawat sastra dan narasi lokal, Bangka Belitung diharapkan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat luas.