Pencarian

BRIN Gelontorkan Rp 3,7 Miliar untuk Demplot Lada di Bangka Barat, Desa Tuik Jadi Lokasi Percontohan

Jumat, 25 September 2026 • 19:01:01 WIB
BRIN Gelontorkan Rp 3,7 Miliar untuk Demplot Lada di Bangka Barat, Desa Tuik Jadi Lokasi Percontohan
Anggota DPRD Bangka Barat Deddi Wijaya menilai dukungan riset BRIN sebagai peluang penting bagi petani lada di wilayah itu.

BANGKA BARAT — Anggota DPRD Bangka Barat Deddi Wijaya menilai dukungan riset dari BRIN menjadi peluang penting bagi petani lada di wilayah itu. Menurutnya, program tersebut menyasar persoalan mendasar: produktivitas dan mutu hasil perkebunan yang selama ini jadi titik lemah lada lokal.

Deddi, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bangka Barat, menyatakan apresiasinya secara terbuka. Ia menekankan program ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan menanam semata.

"Saya sangat mengapresiasi langkah Pemkab Bangka Barat dan BRIN yang memberikan perhatian serius terhadap kebangkitan kembali lada. Ini bukan sekadar program menanam lada, tetapi harus menjadi gerakan membangun kembali ekosistem lada dari hulu sampai hilir," ujar pria yang biasa disapa DW itu, Jumat (25/9/2026) siang.

Desa Tuik Didata sebagai Lokasi Demplot 1,2 Hektare

Perhatian khusus DW tertuju pada rencana menjadikan Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, sebagai salah satu lokasi pengembangan demplot. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, lahan sekitar 1,2 hektare di desa itu telah didata dan dinilai siap mendukung program.

Bagi DW, kesiapan lahan menjadi modal awal yang tidak boleh disia-siakan. Ia berharap lokasi demplot tidak berhenti sebagai kebun percontohan yang dikunjungi sesekali.

"Kalau Desa Tuik memang memiliki lahan yang sudah siap, tentu ini harus kita dorong. Tetapi saya berharap manfaatnya jangan berhenti di satu lokasi. Demplot harus menjadi sekolah lapangan bagi petani, sehingga teknologi dan metode budidayanya bisa direplikasi ke desa-desa lain di Bangka Barat," katanya.

Mengapa Demplot Harus Jadi Sekolah Lapangan

Gagasan DW menyentuh persoalan lama perkebunan lada di Bangka Belitung. Selama bertahun-tahun, petani menghadapi tekanan harga, serangan penyakit, dan penurunan mutu yang membuat posisi Muntok White Pepper melemah di pasar.

Riset dan pendampingan teknologi dari BRIN dinilai bisa memutus rantai masalah itu jika hasilnya benar-benar sampai ke kebun warga. Demplot yang berfungsi sebagai sekolah lapangan memungkinkan petani melihat langsung metode budidaya yang lebih produktif, bukan sekadar menerima penyuluhan di ruang pertemuan.

Dengan pola replikasi antar-desa, manfaat program tidak bergantung pada satu titik lokasi. Petani di desa lain bisa meniru dan menyesuaikan teknik yang terbukti berhasil di Desa Tuik.

Taruhan pada Identitas Ekonomi Bangka Barat

Lada Putih Muntok bukan sekadar komoditas dagang bagi Bangka Barat. Selama puluhan tahun, rempah ini menjadi identitas ekonomi sekaligus penanda kualitas lada Indonesia di pasar dunia.

Dukungan BRIN senilai Rp 3,7 miliar untuk penelitian dan pengembangan demplot menempatkan lada kembali dalam agenda prioritas daerah. DW menilai langkah Pemkab Bangka Barat dan BRIN sebagai perhatian serius terhadap kebangkitan komoditas tersebut.

Keberhasilan program ini akan diukur dari satu hal sederhana: apakah ekosistem lada dari hulu sampai hilir benar-benar terbangun kembali, atau hanya menyisakan kebun percontohan yang tak berlanjut setelah anggaran riset habis.

Follow belitungsatu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: timelines.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks