KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,51% ke level 6.147,86 pada perdagangan awal pekan, tertekan aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,13 triliun di seluruh pasar. Di tengah koreksi itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melaporkan pembalikan kinerja dengan laba bersih US$101,56 juta pada semester I 2026, berbanding rugi US$15,80 juta di periode sama tahun lalu.
Tekanan jual asing di pasar reguler tercatat Rp259,83 miliar, sementara nilai net sell di seluruh pasar membengkak menjadi Rp1,13 triliun. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan berakhir di zona merah dengan sektor teknologi turun paling dalam 4,46%. Sektor transportasi menjadi satu-satunya yang mencatat penguatan berarti, naik 0,47%.
Penghapusan batas minimum harga saham Rp50 memberi efek langsung ke perdagangan. GOTO terkena auto rejection bawah dan menjadi salah satu penekan terbesar IHSG dengan kontribusi -12,84 poin, atau berbobot 1,29% terhadap indeks.
Saham yang Bertahan di Zona Hijau
Sejumlah saham masih mencatat kenaikan di tengah tekanan indeks. AADI memimpin dengan penguatan 3,33%, disusul IMPC 2,83% dan AMRT 1,92%. Sebaliknya, GOTO terkoreksi 14%, BRMS melemah 6,06%, dan AMMN turun 4,03%.
Sentimen dari Wall Street turut membebani. Dow Jones turun 0,67% ke 51.481, S&P 500 melemah 0,77% ke 7.683, dan Nasdaq terkoreksi 0,92% ke 26.820. Indeks ETF EIDO yang merefleksikan saham Indonesia di pasar Amerika Serikat turun 1,08%, sedangkan MSCI Indonesia melemah 0,97%.
MDKA: Pendapatan Naik 64,10%, EBITDA Melonjak 191%
PT Merdeka Copper Gold Tbk membukukan pendapatan konsolidasian US$1,40 miliar pada semester I 2026, naik 64,10% secara tahunan dari US$854,60 juta. EBITDA perseroan melesat 191% menjadi US$512 juta, dibandingkan US$176 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Merdeka Battery Materials (MBMA) masih menjadi penyumbang EBITDA terbesar, ditopang kenaikan volume dan harga bijih nikel. High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencatat pertumbuhan penjualan 72% secara tahunan, disusul produk Nickel Pig Iron (NPI) dan asam.
Produksi bijih nikel Grup Merdeka pada semester I 2026 mencapai 15,20 juta wmt, naik 121% secara tahunan. Produksi emas grup meningkat 32% menjadi 66.814 ons.
Pada paruh kedua 2026, MDKA memasuki sejumlah tahapan pengembangan proyek. Perseroan menargetkan peningkatan produksi dari Tambang Emas Pani dan memulai produksi HPAL Sulawesi Nickel Cobalt. Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah memasuki tahap feasibility study.
ANTM Serap 9 Ton Emas Freeport, Penjualan Capai Rp50,39 Triliun
PT Aneka Tambang Tbk merealisasikan pembelian 9 ton emas dari PT Freeport Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Pasokan itu bagian dari perjanjian dengan kapasitas hingga 30 ton emas per tahun, berkemurnian 99,99% dari fasilitas Precious Metals Refinery PTFI di Gresik.
Penjualan emas ANTM pada semester I 2026 mencapai Rp50,39 triliun, naik 1,43% dari Rp49,68 triliun. Nilai itu menyumbang sekitar 80% dari total penjualan bersih perseroan yang mencapai Rp62,71 triliun, sementara produksi emas dari tambang sendiri tercatat 433 kg.
ANTM juga membangun Pabrik Manufaktur Logam Mulia Gresik berkapasitas sekitar 30 ton emas per tahun. Proyek dengan estimasi investasi Rp1,10 triliun itu masih berada dalam tahap pra-konstruksi.
UNTR Bagi Dividen Interim Rp430 per Saham
PT United Tractors Tbk menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp430 per saham, dengan total pembagian mencapai Rp1,48 triliun. Rasio pembayaran dividen itu setara 154,56% terhadap laba bersih semester I 2026.
Pada perdagangan Senin (28/9), saham UNTR ditutup di level Rp24.375 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp430 per saham setara dengan dividend yield 1,76%.
Cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 6 Oktober 2026, sementara tanggal pembayaran dijadwalkan 26 Oktober 2026.