KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Prof. Ronny Rachman Noor dari IPB University menegaskan protein hewani dari susu, daging, dan telur berperan besar dalam tumbuh kembang anak. Bukan hanya untuk kesehatan hari ini, asupan ini juga menentukan kualitas sumber daya manusia dua dekade mendatang. Simak panduan lengkapnya untuk ibu.
Prof. Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi IPB University, menyoroti peran krusial protein hewani yang sering kali kurang diperhatikan dalam menu harian anak Indonesia. Dalam siaran persnya, Sabtu (3/10/2026), ia menjelaskan bahwa protein dari susu, daging, dan telur mengandung asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh.
Asam amino esensial ini harus diperoleh dari makanan dan minuman. Sayangnya, banyak ibu yang masih menganggap nasi sebagai sumber energi utama tanpa menyadari pentingnya variasi protein hewani untuk mendukung perkembangan otak dan fisik anak.
Mengapa Protein Hewani Penting untuk Anak?
Prof. Ronny menekankan bahwa tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino, dan sembilan di antaranya adalah asam amino esensial yang harus didapat dari makanan. Protein hewani seperti susu, daging, dan telur menyediakan asam amino lengkap yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel, termasuk sel otak.
Tanpa asupan protein hewani yang cukup, anak bisa mengalami hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif. Ini bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga kemampuan belajar dan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Sumber Protein Hewani Terbaik untuk Anak
Ada beberapa sumber protein hewani yang mudah ditemukan di Indonesia dan bisa diolah menjadi menu harian anak:
- Telur: Sumber protein paling terjangkau dan mudah diolah. Bisa direbus, diceplok, atau dicampur ke dalam sayur.
- Susu: Baik susu segar maupun olahan seperti yogurt dan keju, kaya akan kalsium dan protein.
- Daging: Daging sapi, ayam, atau ikan. Ikan juga kaya omega-3 yang baik untuk otak.
- Hati ayam: Sumber zat besi dan protein yang baik untuk mencegah anemia pada anak.
Kapan Anak Mulai Butuh Protein Hewani?
Sejak MPASI dimulai di usia 6 bulan, protein hewani sudah bisa diperkenalkan. Mulailah dengan tekstur lembut seperti telur rebus yang dihaluskan atau daging yang dicincang halus. Bertahap sesuai usia dan kemampuan mengunyah anak.
Untuk anak usia 1-3 tahun, kebutuhan protein harian sekitar 1,5-2 gram per kilogram berat badan. Ibu bisa menyiasati dengan memberikan variasi menu agar anak tidak bosan.
Tips Praktis agar Anak Mau Makan Protein Hewani
Beberapa anak mungkin menolak makan daging karena teksturnya. Coba campurkan daging cincang ke dalam nasi atau bubur. Untuk telur, variasikan bentuk olahannya, misalnya telur dadar gulung atau telur mata sapi mini.
Jika anak susah makan susu, ganti dengan yogurt atau keju yang rasanya lebih disukai. Jangan menyerah jika anak menolak di awal, coba lagi dengan cara penyajian berbeda.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika anak menunjukkan tanda-tanda kekurangan protein seperti lesu, mudah sakit, atau pertumbuhan yang lambat, segera konsultasikan ke dokter anak. Dokter akan memeriksa apakah ada masalah penyerapan nutrisi atau kebutuhan khusus lainnya.
Ibu juga bisa berkonsultasi dengan ahli gizi untuk menyusun menu seimbang sesuai kondisi anak.
Memberikan protein hewani yang cukup bukan hanya soal memenuhi gizi hari ini. Ini investasi jangka panjang untuk anak yang lebih cerdas, sehat, dan berkualitas di masa depan. Mulailah dari sekarang dengan pilihan menu yang tepat dan sesuai selera si kecil.