KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Defisit perdagangan Amerika Serikat membengkak 13,7 persen menjadi US$105,6 miliar pada Agustus, melampaui perkiraan konsensus Dow Jones dan Reuters yang hanya US$102 miliar. Lonjakan impor barang teknologi kecerdasan buatan (AI) serta tarif impor Presiden Donald Trump menjadi pemicu utama. Angka ini menjadi defisit terbesar sejak rekor Maret 2025.
Kementerian Perdagangan AS melaporkan defisit perdagangan barang dan jasa periode Agustus menembus US$105,6 miliar, naik dari posisi Juli. Laporan yang dirilis Selasa (6/10) itu sekaligus mencatat rekor defisit perdagangan barang dengan tiga negara mitra: Meksiko, Vietnam, dan Malaysia.
Sebagai pembanding, defisit perdagangan AS masih berada di level US$79,8 miliar ketika Trump memenangkan pemilu presiden pada November 2024. Puncak defisit tertinggi sebelumnya terjadi pada Maret 2025, tepat sebelum Trump mengumumkan "hari pembebasan" dan menerapkan tarif "timbal balik" terhadap mitra dagang AS.
Impor Barang AI dan Tarif Trump Jadi Pemicu
Lonjakan impor barang terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penyebab utama bengkaknya defisit. Kebutuhan perangkat keras dan komponen teknologi yang belum bisa diproduksi di dalam negeri memaksa AS tetap mengimpor dalam volume besar.
Kebijakan tarif impor agresif Trump yang diluncurkan untuk menekan jurang defisit justru tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Kepala Ekonom FWD BONDS Christopher Rupkey menilai kebijakan perdagangan pemerintah AS sebagian besar gagal.
"Kebijakan perdagangan pemerintah sebagian besar dinilai gagal. Penerapan tarif tidak terbukti mengurangi ketergantungan Amerika terhadap barang impor," ujar Rupkey.
Rupkey menambahkan tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat barang produksi domestik sulit bersaing secara harga dengan kebutuhan konsumen. Pembangunan pabrik baru pun dinilai tidak akan cukup cepat mengejar permintaan pasar, bahkan jika produsen domestik bersedia berinvestasi.
Defisit Kumulatif Tahun Berjalan Justru Turun 20 Persen
Meski angka bulanan membengkak, defisit kumulatif tahun berjalan (year-to-date) neraca perdagangan AS tercatat US$138,2 miliar. Angka itu turun hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ekonom keuangan di Nationwide, Oren Klachkin, menyebut kenaikan harga membuat pergerakan angka defisit tampak lebih besar dari kondisi sebenarnya. Meski demikian, ia memperkirakan perdagangan neto tetap akan menghambat pertumbuhan PDB kuartal ketiga.
"Kenaikan harga membuat pergerakan angka ini tampak lebih besar dari kenyataannya, namun demikian perdagangan neto diperkirakan akan menghambat pertumbuhan PDB kuartal ketiga," ujar Klachkin.
Ekonom Pangkas Proyeksi PDB Kuartal III
Melansir Reuters, para ekonom menilai AS tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sejumlah analis pun mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk periode Juli hingga September.
Impor umumnya mengurangi nilai dalam perhitungan PDB. Karena itu, lonjakan impor Agustus berpotensi menekan angka pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga, meski sebagian impor mencerminkan permintaan konsumen yang masih kuat.
Bagi pelaku pasar global, data ini memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi dan kebijakan tarif masih akan membebani ekonomi AS. Dampaknya menjalar ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui jalur nilai tukar dan arus modal asing.