KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — CEO baru Porsche, Michael Leiters, memaparkan peta jalan penyelamatan merek yang mencakup peluncuran 718 Boxster dan Cayman listrik pada 2027, crossover seukuran Macan bermesin bensin dan hybrid pada 2028, serta supercar mid-engine sebagai model halo. Rasio produk dibalik menjadi 2:1 antara model bermesin pembakaran dan kendaraan listrik. Pabrik di Amerika Serikat dipastikan tidak masuk dalam rencana meski tekanan tarif masih berlangsung.
Porsche menempatkan elektrifikasi 718 sebagai langkah pertama dari rangkaian panjang pemulihan bisnis. Model sport listrik tersebut dijadwalkan meluncur pada 2027 sebagai pengganti Boxster dan Cayman generasi sekarang yang sudah berusia lebih dari satu dekade. Leiters menyampaikan rencana ini dalam pemaparan strategi yang dikutip Automotive News.
718 Listrik Jadi Pembuka, Crossover Hybrid Menyusul 2028
Setelah 718 listrik masuk pasar, Porsche akan menghadirkan crossover seukuran Macan pada 2028. Model ini mendapat pilihan powertrain bensin dan hybrid, bukan listrik murni. Posisinya akan berdampingan dengan Macan listrik yang sudah lebih dulu dijual, sehingga Porsche punya dua opsi berbeda di segmen SUV kompak premium.
Langkah tersebut menandai pergeseran dari ambisi awal Porsche yang sempat menargetkan dominasi kendaraan listrik. Rasio produk kini disusun 2:1, artinya dua model bermesin pembakaran untuk setiap satu kendaraan listrik.
Supercar Mid-Engine Baru sebagai Model Halo
Porsche menyiapkan supercar bermesin tengah sebagai wajah baru lini produknya. Model ini diposisikan sebagai halo car, kendaraan yang fungsinya membangun citra teknis dan menarik perhatian pasar terhadap seluruh jajaran.
Posisi supercar mid-engine ini akan mengisi ruang yang selama ini kosong di antara 911 dan model hiper seperti 918 Spyder yang sudah lama dihentikan. Belum ada keterangan resmi soal nama, platform, maupun target waktu peluncurannya.
SUV Tiga Baris di Atas Cayenne
Sebuah SUV besar dengan konfigurasi tiga baris kursi akan duduk di atas Cayenne. Model ini kemungkinan besar dibangun di atas platform Audi Q9 yang baru. Langkah tersebut memperluas cakupan Porsche ke segmen SUV premium berkapasitas tujuh penumpang, wilayah yang selama ini belum digarap merek asal Stuttgart itu.
Kehadiran SUV tiga baris memberi Porsche alat baru untuk mengejar volume di pasar Amerika Serikat dan Tiongkok, dua wilayah yang paling menyerap model bermargin tinggi.
911 Dipertahankan dengan Varian Mahal, Versi Murah Dipangkas
Nama 911 tetap menjadi tulang punggung keuangan Porsche. Leiters menyatakan merek akan memperbanyak varian kelas atas untuk menambal margin, sementara sejumlah varian entry-level berpotensi dipangkas dari daftar.
Strategi ini berbeda dari pendekatan lama Porsche yang menjaga rentang harga 911 tetap lebar, dari versi dasar sampai Turbo S. Kini fokus diarahkan ke varian bermargin tebal seperti GT dan edisi terbatas.
Pabrik Amerika Serikat Tetap Tidak Masuk Rencana
Meski tarif impor ke Amerika Serikat masih menjadi persoalan, Porsche memutuskan tidak membangun fasilitas produksi di sana. Keputusan ini mempertahankan seluruh perakitan di Jerman dan beberapa lokasi Eropa yang sudah ada.
Konsekuensinya, harga jual Porsche di pasar Amerika tetap rentan terhadap perubahan kebijakan dagang. Namun perusahaan menilai investasi pabrik baru terlalu berat dibanding manfaat jangka pendek yang bisa didapat.
Tekanan dari Pasar dan Kompetitor
Rencana ini muncul saat Porsche menghadapi penurunan permintaan di beberapa pasar utama. Model listrik seperti Taycan dan Macan EV belum mencapai volume yang diharapkan, sementara kompetitor dari Tiongkok terus menekan di segmen premium.
Keputusan memperbanyak model bermesin pembakaran dan hybrid mencerminkan realitas pasar yang belum sepenuhnya siap beralih ke listrik. Porsche memilih jalur bertahap ketimbang memaksakan transisi yang berisiko menggerus laba.