PANGKALPINANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merilis data terbaru yang menunjukkan pergerakan penumpang kapal laut di wilayah itu mengalami kontraksi signifikan. Pada April 2026, jumlah penumpang yang berangkat dari berbagai pelabuhan di Babel hanya 37.246 orang, turun lebih dari setengahnya dibandingkan Maret 2026.
Kepala BPS Kepulauan Babel Sugeng Arianto menjelaskan, pergeseran preferensi masyarakat menjadi pemicu utama. "Penumpang angkutan laut turun, karena masyarakat lebih memilih menggunakan angkutan udara untuk berpergian ke luar daerah," ujarnya di Pangkalpinang, Selasa.
Penurunan jumlah keberangkatan penumpang pada April 2026 terbesar terjadi di Pelabuhan Belinyu, Kabupaten Bangka, yang ambrol hingga 74,06 persen. Disusul Pelabuhan Tanjung Kalian, Kabupaten Bangka Barat, dengan penurunan 58,84 persen. Sementara penurunan terendah tercatat di Pelabuhan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, sebesar 26,21 persen.
Meski anjlok dalam sebulan terakhir, data BPS menunjukkan secara kumulatif periode Januari hingga April 2026, arus penumpang yang berangkat justru mencatatkan peningkatan 1,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, lonjakan terjadi di awal tahun sebelum akhirnya surut pada April.
Tak hanya keberangkatan, arus kedatangan penumpang angkutan laut di Babel pada April 2026 juga mengalami penurunan. Tercatat sebanyak 42,14 ribu orang tiba di pelabuhan-pelabuhan Babel, atau turun 37,62 persen dari bulan sebelumnya.
"Penurunan kedatangan penumpang ini hampir terjadi di seluruh pelabuhan dan tertinggi pada di Pelabuhan Belinyu 75,91 persen, Pelabuhan Tanjung Kalian 44,21 persen dan Tanjung Pandan turun 6,09 persen," kata Sugeng.
Secara keseluruhan, aktivitas kedatangan penumpang melalui jalur laut pada April 2026 masih lebih besar dibandingkan aktivitas keberangkatan. Jalur masuk dan keluar paling sibuk adalah Pelabuhan Tanjung Kalian di Bangka Barat.
Pelabuhan ini menjadi titik utama pergerakan penumpang kapal yang menghubungkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera. "Mengingat jumlah yang cukup besar, pergerakan aktivitas pada Pelabuhan Tanjung Kalian ini memberikan efek cukup signifikan baik pada pergerakan kedatangan maupun keberangkatan penumpang kapal ke Pulau Sumatera," ujar Sugeng.
Data BPS ini menjadi sinyal bagi pemangku kepentingan di sektor transportasi laut Babel. Tren peralihan ke moda udara yang terus menguat berpotensi mengubah peta distribusi penumpang antarpulau di masa mendatang, terutama jika harga tiket pesawat tetap kompetitif dibandingkan ongkos kapal.