KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kolaborasi antara Kementan dan BRIN ini bukan sekadar seremonial. Anggaran puluhan triliun rupiah itu akan difokuskan pada pengembangan varietas unggul, efisiensi pupuk, serta sistem irigasi cerdas. Bagi petani, program ini diharapkan bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen per hektare.
Skema pembinaan yang dirancang tidak hanya memberikan uang tunai. BRIN akan menurunkan peneliti ke lapangan untuk mendampingi petani menerapkan teknologi baru. Misalnya, penggunaan drone untuk pemetaan lahan atau sensor tanah untuk menentukan dosis pupuk yang pas.
“Kami ingin riset tidak berhenti di laboratorium. Harus sampai ke sawah dan ladang petani,” ujar perwakilan BRIN dalam keterangan resmi. Targetnya, dalam dua tahun ke depan, produktivitas padi dan jagung bisa naik minimal 15 persen.
Dengan nilai Rp 40 triliun, publik tentu menanti transparansi penggunaan dana. Kementan memastikan alokasi tersebut akan diaudit secara berkala oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sebelumnya, program serupa sempat menuai kritik karena hasil riset tidak sampai ke petani.
Kali ini, BRIN dan Kementan sepakat membentuk tim pemantau gabungan. Setiap tiga bulan, laporan kemajuan akan dipublikasikan. Langkah ini sekaligus menjawab keraguan sejumlah pengamat yang menilai riset pertanian Indonesia kerap mandek di tahap uji coba.
Jika berjalan mulus, program ini berpotensi menekan volume impor beras dan jagung yang masih tinggi. Sepanjang tahun lalu, Indonesia mengimpor lebih dari 2 juta ton beras. Dengan produksi dalam negeri yang meningkat, pemerintah berharap ketergantungan terhadap pasokan luar negeri bisa berkurang secara bertahap.
Petani di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan menjadi prioritas awal pembinaan. Kedua provinsi itu dipilih karena memiliki lahan pertanian luas dan infrastruktur irigasi yang relatif baik. Riset tahap pertama akan dimulai pada Maret 2025.
Langkah Kementan dan BRIN ini menjadi ujian nyata apakah riset pertanian di Indonesia bisa benar-benar berdampak. Jika gagal, anggaran Rp 40 triliun hanya akan menjadi angka di atas kertas. Namun jika sukses, petani kecil yang selama ini terpinggirkan bisa menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.