KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Strava, platform kebugaran sosial dengan lebih dari 195 juta pengguna di 185 negara, resmi merilis sejumlah fitur anyar yang dikhususkan untuk aktivitas hiking. Langkah ini merupakan respons terhadap tren hiking yang terus tumbuh sebagai salah satu olahraga sosial paling populer. Dalam laporan Year In Sport Strava, jumlah klub hiking di platform naik 5,8 kali lipat pada 2025, menjadikan segmen ini sebagai prioritas pengembangan perusahaan.
Salah satu perubahan paling terlihat ada pada tampilan peta. Strava kini menampilkan data permukaan jalur secara visual, sehingga pengguna bisa membedakan mana jalur tanah, bebatuan, atau aspal sebelum memulai pendakian. Peta juga menandai titik awal pendakian, area piknik, dan lokasi perkemahan dengan ikon yang lebih jelas.
Informasi ini krusial untuk perencanaan rute, terutama bagi pendaki pemula yang belum familiar dengan kondisi medan. Dengan data permukaan, pengguna bisa memilih jalur yang sesuai dengan kemampuan fisik dan perlengkapan yang dibawa.
Fitur keamanan baru bernama Peringatan Keluar Rute akan mengirimkan notifikasi otomatis saat pengguna menyimpang dari jalur yang sudah direncanakan. Ini sangat berguna di area dengan sinyal seluler yang buruk atau jalur yang tidak jelas.
Untuk pengguna berlangganan (pelanggan), Strava menyediakan paket fitur lengkap: Penemuan Rute untuk mencari jalur populer di sekitar lokasi, Pembuat Rute untuk mendesain jalur sendiri dengan data jarak dan elevasi, serta Penyimpanan Rute. Pelanggan juga bisa mengunduh peta untuk akses offline, memastikan navigasi tetap berfungsi tanpa koneksi internet.
Pembaruan ini juga menyempurnakan integrasi dengan perangkat wearable. Navigasi rute kini bisa diakses langsung di Apple Watch, sehingga pengguna tidak perlu terus-menerus mengecek ponsel saat mendaki. Strava juga memungkinkan sinkronisasi rute bolak-balik ke perangkat Garmin, Apple Watch, dan Coros. Artinya, rute yang dibuat di aplikasi Strava bisa langsung dikirim ke jam tangan, dan data aktivitas dari jam tangan tetap tercatat otomatis di Strava.
Bagi pendaki gunung dan penghobi trekking di Indonesia, fitur-fitur ini menjawab kebutuhan navigasi yang selama ini menjadi titik lemah. Jalur pendakian populer seperti Gunung Prau, Rinjani, atau Semeru sering kali memiliki percabangan yang tidak jelas. Dengan Peringatan Keluar Rute dan peta permukaan, risiko tersesat bisa diminimalkan. Namun, perlu dicatat bahwa data jalur di Indonesia mungkin belum selengkap di Amerika Serikat atau Eropa, mengingat sebagian besar kontribusi peta berasal dari pengguna lokal.
Strava tidak menyebutkan perubahan harga langganan bersamaan dengan peluncuran fitur ini. Bagi pengguna gratis, peta dasar dengan data permukaan dan titik awal pendakian tetap bisa diakses tanpa biaya tambahan.