KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Aptera, startup asal California, akhirnya membuka pintu bagi jurnalis untuk menjajal langsung mobil listrik bertenaga surya mereka. Bukan sekadar konsep, kendaraan roda tiga ini sudah dalam status prototipe validasi yang bisa dikendarai, meski masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum masuk produksi massal.
Desain Ekstrem demi Efisiensi Maksimal
Untuk membuat panel surya bekerja optimal pada kendaraan, Aptera harus memikirkan ulang bentuk mobil secara fundamental. Hasilnya adalah siluet yang berada di antara mobil balap tenaga surya dan mobil konvensional — ramping, ringan, dan sangat aerodinamis.
Konsekuensinya cukup radikal. Mobil ini hanya memiliki dua kursi karena bagian belakang yang meruncing tidak muat untuk penumpang tambahan. Tiga roda digunakan untuk mengurangi gangguan aerodinamis di bagian belakang, sementara roda depan ditutup pod untuk meminimalkan hambatan angin.
Aptera sendiri sudah berganti wujud beberapa kali sejak didirikan pada 2005. Awalnya mereka mencoba membuat kendaraan berbahan bakar bensin irit 300+ mil per galon, lalu bangkrut, bangkit lagi, dan akhirnya sejak 2019 fokus penuh ke tenaga listrik dengan panel surya di seluruh bodi.
Kabin Sempit, Tapi Ruang Kargo Mengejutkan
Begitu pintu kupu-kupu terbuka, Anda langsung disambut kokpit yang kompak. Ruang bahu cukup lega, tapi headroom terbatas — jurnalis yang bertubuh 183 cm merasa sedikit kurang lega di bagian atas. Posisi duduknya rendah seperti sportscar, mungkin perlu adaptasi bagi yang terbiasa dengan SUV atau MPV.
Setirnya berbentuk yoke, yang biasanya tidak disukai banyak orang, tapi dalam prototipe ini ternyata cukup nyaman. Sayangnya setir hanya bisa diatur naik-turun secara manual, tanpa teleskopik. Pedal dead rest juga terasa agak dekat, menurut penguji.
Yang justru mengejutkan adalah ruang kargo. Meski kabin kecil, bagasi Aptera sangat panjang — cukup untuk menyimpan papan selancar pendek, stik golf, atau bahkan kayu 2x4. Seorang jurnalis setinggi 183 cm bahkan bisa berbaring di dalamnya secara diagonal. Aptera juga mengisyaratkan akan ada aksesori tenda untuk berkemah, dengan daya dari panel surya yang bisa dipakai untuk AC atau peralatan camping.
Prototipe Jalan, Tapi Belum Sempurna
Mobil yang diuji adalah prototipe validasi pertama yang rampung pada Maret lalu. Beberapa fitur belum aktif — tidak ada pengereman regeneratif, tidak ada speaker, dan masih ada masalah tuning drivetrain di kecepatan 4 mph. Urusan NVH (noise, vibration, harshness) juga masih perlu diperhalus.
Meski begitu, sebagian besar komponen dan tata letak sudah mendekati versi final. Pengalaman berkendara yang dirasakan saat ini sudah bisa menjadi indikator awal bagaimana karakter mobil ini nantinya. Aptera berencana menambahkan fitur V2L (vehicle-to-load) untuk menyalakan perangkat eksternal, meski detail spesifiknya belum diungkap.
Masa Depan yang Masih Panjang
Perjalanan Aptera belum selesai. Mereka masih berganti pemasok, melakukan iterasi suspensi, motor, dan sistem pengisian daya. Tapi setidaknya, mobil ini sudah bergerak — dan itu adalah lompatan besar dari sekadar render atau prototipe statis.
Untuk pasar Indonesia, tentu masih jauh. Regulasi kendaraan roda tiga, infrastruktur pengisian, dan harga yang pasti tidak murah menjadi tantangan tersendiri. Tapi yang dilakukan Aptera membuktikan satu hal: mobil bertenaga surya bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas.