Larangan ekspor ini dikeluarkan pemerintah AS pada akhir pekan lalu. Anthropic, perusahaan di balik model AI Claude, langsung menonaktifkan kedua layanan tersebut dan sejak Jumat (12/5) lalu terus bernegosiasi dengan Gedung Putih. Hingga kini, belum ada kesepakatan yang memungkinkan akses kembali.
Mythos 5, yang diperkenalkan pada April lalu, bukan sekadar model AI biasa. Anthropic sendiri mengakui model ini memiliki kemampuan ganda yang berbahaya. “Penggunaan tingkat lanjut dari model AI bersifat dual-use: pertanyaan yang sama yang bermanfaat bagi profesional keamanan siber dan peneliti biologi bisa berbahaya jika tersedia bagi aktor jahat,” tulis perusahaan dalam sebuah pernyataan.
Model ini mampu menemukan celah keamanan perangkat lunak untuk membantu pengembang memperbaikinya. Namun di sisi lain, Mythos 5 juga bisa mencari cara untuk mengeksploitasi celah yang sama. Senjata makan tuan.
Sadar akan potensi penyalahgunaan, Anthropic tidak langsung merilis Mythos 5 ke publik. Versi awal yang disebut Mythos Preview hanya diberikan kepada konsorsium terbatas yang tergabung dalam kelompok kerja bernama Proyek Glasswing. Kelompok ini terdiri dari para ahli yang bertugas menguji dan membatasi risiko model tersebut.
Mythos 5 versi penuh baru dirilis ke kelompok yang sama pekan lalu. Sementara itu, Claude Fable 5—model setara Mythos—dilepas untuk publik umum dengan blokade ketat. Anthropic sengaja membatasi kemampuannya untuk menjawab pertanyaan seputar biologi dan keamanan siber.
Bagi pengembang AI dan peneliti keamanan siber di Indonesia, pemblokiran ini menjadi alarm. Akses ke model-model frontier seperti Mythos 5 kini dibatasi oleh kebijakan geopolitik, bukan sekadar lisensi atau biaya. “Ini menunjukkan bahwa teknologi AI paling canggih akan semakin dikontrol oleh negara asalnya,” ujar seorang pengamat teknologi di Jakarta.
Indonesia yang masih bergantung pada model AI buatan asing untuk riset dan pengembangan lokal harus mulai mempertimbangkan implikasi regulasi ini. Ketergantungan pada akses terbuka mungkin tidak lagi menjadi jaminan ke depannya.
Kasus Anthropic ini adalah contoh paling gamblang tentang dilema regulasi AI modern. Di satu sisi, model seperti Mythos 5 bisa menjadi alat revolusioner bagi pertahanan siber. Di sisi lain, begitu teknologi ini bocor ke tangan yang salah, dampaknya bisa sistemik.
Pemerintah AS memilih pendekatan keras: blokir total. Namun para kritikus mempertanyakan efektivitas langkah ini. Apakah larangan akses benar-benar bisa menghentikan penyebaran kemampuan berbahaya, atau justru mendorong pengembangan model serupa di luar jangkauan pengawasan mereka?
Anthropic sendiri terus berupaya mencari jalan tengah. Namun hingga kesepakatan dengan pemerintah AS tercapai, Claude Fable 5 dan Mythos 5 akan tetap menjadi produk yang hanya bisa dinikmati—dan diawasi—oleh segelintir orang.