KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Keputusan harga terbaru untuk bahan bakar RON 92 dan di atasnya ini langsung berlaku pada Kamis pekan ini. Pertamina Patra Niaga, sebagai anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bertugas menyalurkan BBM, menegaskan bahwa mekanisme harga pasar menjadi acuan utama dalam menentukan besaran tarif Pertamax series.
Kebijakan ini bukanlah hal baru. Sejak BBM non subsidi dilepas dari skema penugasan pemerintah, harga Pertamax series sudah mengikuti mekanisme pasar yang ditinjau secara periodik. Penyesuaian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta biaya distribusi dan penyimpanan.
Bagi pengguna kendaraan bermotor yang biasa mengisi Pertamax Turbo, Pertamax Green, atau Pertamax Dex, perubahan harga ini akan terpantau langsung di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina. Harga yang tertera di pompa per 10 April 2025 merupakan harga resmi yang telah melalui kalkulasi formula pasar.
Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa transparansi informasi harga menjadi prioritas. Konsumen dapat mengecek daftar harga terbaru melalui aplikasi MyPertamina atau papan informasi di SPBU terdekat. Perusahaan juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap melakukan pembelian sesuai kebutuhan.
Mekanisme pasar yang diterapkan pada Pertamax series berbeda dengan BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite. Untuk BBM non subsidi, Pertamina Patra Niaga memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan harga mengikuti tren harga minyak dunia yang kerap bergejolak. Jika harga minyak mentah naik, maka harga jual ikut naik; demikian pula sebaliknya.
Langkah ini juga bertujuan menjaga iklim usaha yang sehat di sektor hilir migas. Dengan harga yang kompetitif dan wajar, Pertamina Patra Niaga tetap bisa menjamin ketersediaan stok BBM non subsidi di seluruh wilayah Indonesia tanpa harus bergantung pada suntikan dana dari pemerintah.
Penyesuaian harga ini secara langsung memengaruhi ongkos logistik dan transportasi bagi sektor bisnis yang menggunakan BBM non subsidi. Namun, bagi konsumen rumah tangga, dampaknya lebih terasa pada pengeluaran operasional kendaraan pribadi. Pertamina Patra Niaga berharap fluktuasi ini bisa diantisipasi dengan pola konsumsi yang bijak.
Ke depan, perusahaan akan terus memonitor pergerakan pasar dan memastikan bahwa setiap perubahan harga disosialisasikan secara transparan. Hal ini penting agar masyarakat tidak dirugikan oleh informasi yang simpang siur terkait harga BBM di Indonesia.