Peneliti IPB University Ubah Limbah Tambak Udang Bangka Tengah Jadi Pupuk Organik Sawit, Target Komersial 2027

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24:01 WIB
Tim peneliti IPB University mengolah limbah tambak udang Bangka Tengah menjadi pupuk organik untuk kelapa sawit.

BANGKA TENGAH — Selama ini, limbah dari proses pembersihan kolam tambak udang, seperti cangkang hasil pergantian kulit (molting) dan sedimen lumpur sisa pakan, kerap menjadi momok bagi lingkungan pesisir Bangka Tengah. Material yang dibuang ke saluran air itu perlahan mencemari perairan. Kini, ancaman ekologis tersebut disulap menjadi berkah oleh tim peneliti dan dosen dari IPB University.

Tim yang diketuai Prof Tridoyo Kusumastanto meluncurkan inovasi konversi limbah tambak menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi. Pupuk ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman kelapa sawit, komoditas utama di provinsi penghasil timah itu.

Dari Cangkang Udang hingga Lumpur Sisa Pakan

Proses produksi pupuk ini terbilang kompleks. Dr Kastana Sapanli, Ketua Program Studi Ekonomi Kelautan Tropika Sekolah Pascasarjana IPB University yang juga bagian dari tim peneliti, menjelaskan bahwa inovasi ini menerapkan sistem integrated multi-trophic aquaculture (IMTA). Pendekatan budi daya terintegrasi ini memungkinkan limbah dari satu organisme menjadi sumber daya bagi organisme lain.

"Selama ini, limbah molting udang dari pembersihan kolam setiap 2–3 hari sekali hanya dibuang dan mencemari perairan pesisir. Melalui riset ini, kami mengumpulkan cangkang udang tersebut dari saluran pembuangan untuk diolah menjadi kitin, lalu dikonversi menjadi kitosan," ujar Dr Kastana dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.

Tak hanya cangkang, sedimen lumpur hasil sisa pakan dan kotoran udang yang disaring melalui rotary drum filter juga diolah menjadi bahan baku pupuk organik. Dr Kastana menjamin produk ini 100 persen aman secara biologis karena melalui proses kimiawi intensif, mulai dari pencucian, demineralisasi, deproteinasi, hingga deasetilasi menjadi kitosan.

Mengapa Sasaran Pasar Kelapa Sawit?

Sebelum diarahkan ke kelapa sawit, tim peneliti telah menguji coba pupuk ini pada tanaman sayuran. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan pupuk komersial lainnya. Namun, untuk skala komersial, tim riset sengaja membidik sektor perkebunan sawit.

"Alasannya adalah Bangka memiliki areal perkebunan sawit yang luas sehingga menjadi pasar potensial. Sedimen limbah tambak diarahkan menjadi pupuk organik kelapa sawit sebagai nilai tambah ekonomi," kata Dr Kastana.

Pelibatan Masyarakat Lokal dan Target Komersialisasi

PT Shrimpi telah ditunjuk sebagai mitra sekaligus proyek percontohan pertama dari hilirisasi riset ini. Ke depan, tim peneliti akan melibatkan masyarakat lokal dalam proses produksi pupuk. Pelatihan untuk pemilik tambak di Bangka Tengah akan menjadi langkah awal.

Pada tahun kedua riset, petani pemilik kebun sawit akan mendapat pelatihan dan pendampingan untuk aplikasi pupuk di perkebunan mereka. Berdasarkan peta jalan penelitian, peluncuran komersial pupuk organik ini ditargetkan pada akhir 2027.

"Tahapan yang dilakukan agar sampai pada tahap komersialisasi adalah uji laboratorium pupuk, uji lapangan, dan sertifikasi produk," ungkap Dr Kastana.

Reporter: Sutomo
Sumber: ipb.ac.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top