KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Skema baru ini diumumkan melalui siaran Carscoops pada Selasa (14/1). Dengan tambahan dana tersebut, pembeli mobil listrik di Tokyo kini bisa menerima total subsidi 1,3 juta yen, sementara kendaraan hibrida mendapat 1,15 juta yen (sekitar Rp128 juta). Langkah ini diambil untuk mempercepat transisi warga dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan elektrifikasi.
Meski nilai dasar subsidi naik, pemerintah Tokyo menerapkan kebijakan diferensiasi untuk insentif tambahan berdasarkan merek. Menurut laporan Nikkei Asia, pembeli EV buatan Toyota, Nissan, dan Honda berhak atas tambahan 400.000 yen (sekitar Rp44 juta).
Adapun pembeli Mitsubishi, BMW, Mercedes-Benz, dan Tesla hanya menerima tambahan 300.000 yen (sekitar Rp33 juta). Jumlah ini lebih rendah dari yang didapat merek domestik utama Jepang.
Nasib berbeda dialami pembeli BYD. Pabrikan asal China itu hanya mendapat tambahan subsidi 100.000 yen (sekitar Rp11 juta), sedangkan pembeli Daihatsu saat ini tidak menerima tambahan subsidi sama sekali. Kebijakan ini menegaskan arah pemerintah Tokyo dalam memprioritaskan produsen dalam negeri.
Produsen kendaraan tanpa emisi juga bisa mengajukan insentif tambahan dari pemerintah Tokyo. Syaratnya, pabrikan harus menjual sedikitnya 60 unit kendaraan baru di wilayah Tokyo sepanjang 2025. Ada pula insentif hingga 200.000 yen (sekitar Rp22 juta) untuk kategori "transformasi hijau" yang diberikan kepada produsen yang memenuhi kriteria keberlanjutan tertentu.
Selain itu, kebijakan insentif lama tetap dipertahankan. Pemilik mobil dengan fitur Vehicle-to-Everything (V2X) — kemampuan menyalurkan daya listrik dari kendaraan ke perangkat lain — mendapat dana 100.000 yen (sekitar Rp11 juta). Subsidi serupa juga diberikan untuk biaya pemasangan perangkat pengisian dan penyaluran daya.
Pemerintah Tokyo memberikan tambahan 150.000 yen (sekitar Rp16 juta) bagi pemilik kendaraan yang menggunakan listrik dari penyedia energi bersumber 100 persen energi terbarukan. Pembeli juga bisa memperoleh tambahan hingga 300.000 yen (sekitar Rp33 juta) jika rumah atau tempat kerja mereka memakai tenaga surya.
Subsidi dari pemerintah metropolitan ini bisa digabungkan dengan insentif dari pemerintah pusat Jepang yang menyediakan bantuan hingga 1,3 juta yen (sekitar Rp145 juta). Namun, nilai subsidi pusat juga bervariasi — kendaraan dengan baterai buatan Jepang mendapat bantuan terbesar, sedangkan BYD yang memakai baterai impor hanya menerima subsidi minimal 150.000 yen (sekitar Rp16 juta).
Kebijakan ini diluncurkan di tengah rendahnya adopsi kendaraan listrik di Jepang. Sepanjang 2025, penjualan EV baru hanya mencakup sekitar 1,6 persen dari total penjualan mobil baru di negara tersebut. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan pasar utama lain seperti China dan Eropa.
Dengan total insentif yang bisa mencapai lebih dari Rp290 juta jika digabungkan dengan subsidi pusat, Tokyo berharap angka penetrasi EV bisa terdongkrak signifikan dalam dua tahun ke depan.