PANGKALPINANG — Sebanyak 1.300 petani lada putih di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) bakal mendapatkan pendampingan pemasaran produk hingga ke pasar internasional. Fasilitasi ini merupakan bagian dari Program Holding UMKM yang digagas Kementerian UMKM untuk membangun ekosistem kemitraan bisnis berbasis klaster.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menyebut kolaborasi dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) menjadi kunci utama agar produk perkebunan dari daerah penghasil lada terbesar di Indonesia itu bisa menembus pasar ekspor.
"Kita melalui Program Holding UMKM membangun ekosistem kemitraan bisnis UMKM berbasis klaster," kata Bagus Rachman di Pangkalpinang, Minggu.
Program ini sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan target Indonesia Emas 2045. Menurut Bagus, penguatan akses pasar bagi pelaku UMKM di sektor perkebunan merupakan langkah strategis untuk menaikkan kelas usaha kecil menjadi pemain global.
Pelaksanaan program ini melibatkan PT Cinquer Agro Nusantara (CAN) sebagai operator holding UMKM klaster perkebunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perusahaan tersebut saat ini telah menjalin kemitraan dengan ribuan petani lada yang tersebar di daerah itu.
Data yang dihimpun menyebutkan, PT CAN bermitra dengan 1.300 petani yang memiliki lahan seluas 1.000 hektare. Kapasitas produksi lada putih yang dikelola mencapai 500 ton per tahun, menjadikannya salah satu klaster perkebunan dengan skala terbesar di kawasan tersebut.
Penjabat Sekda Provinsi Kepulauan Babel, Fery Afriyanto, menegaskan bahwa komoditas lada putih selama ini masih dominan dipasarkan dalam bentuk mentah. Kondisi itu membuat nilai tambah yang diterima petani relatif kecil dibandingkan potensi ekonominya.
"Kita ingin komoditas unggulan di Babel, khususnya lada putih tidak berhenti sebagai komoditas primer, tetapi mampu berkembang menjadi produk bernilai tambah, memiliki standar kualitas yang kuat dan semakin luas menembus pasar nasional maupun internasional," ujar Fery yang mewakili Gubernur Kepulauan Babel, Hidayat Arsani.
Melalui holding UMKM, pemerintah mendorong pengolahan lada menjadi berbagai produk turunan. Dengan begitu, harga jual di pasar internasional meningkat dan kesejahteraan petani ikut membaik.
Keberhasilan program ini dinilai tidak bisa berjalan sendiri. Kementerian UMKM menggandeng Barantin serta lintas kementerian lain untuk memastikan standar mutu dan karantina produk lada Babel memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.
"Kolaborasi dengan Barantin dan lintas kementerian lainnya sangat penting, agar UMKM klaster pertanian dan perkebunan di Kepulauan Babel ini bisa naik kelas dan bersaing di pasar internasional," kata Bagus Rachman.
Fery menambahkan, pembentukan holding UMKM menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dukungan penuh dari pemerintah daerah pun diberikan agar program ini berjalan optimal di lapangan.