KOBA — Kepala BPBD Bangka Tengah Yudhi Sabara menyebut karhutla masih menjadi ancaman bencana yang perlu diwaspadai warga, terutama memasuki masa peralihan musim dengan potensi cuaca ekstrem. Data Pusat Pengendalian Operasi BPBD menunjukkan 195 dari 240 kejadian bencana sepanjang 1 Januari hingga 18 September 2026 merupakan karhutla.
Dampak utamanya menyasar kawasan hutan dan lahan. Selain karhutla, BPBD mencatat 20 kejadian angin kencang, 11 banjir, tiga kekeringan, dan dua banjir rob pada periode yang sama.
Karhutla tersebar di enam kecamatan di Bangka Tengah. Koba dan Lubuk Besar mencatat kejadian paling banyak.
Empat kecamatan lain — Sungai Selan, Simpang Katis, Namang, dan Pangkalanbaru — juga mencatat karhutla bersamaan dengan angin kencang.
Seluruh rangkaian bencana sepanjang periode tersebut berdampak pada 790 orang dan 255 rumah. Angka itu mencakup karhutla, angin kencang, banjir, kekeringan, hingga banjir rob.
BPBD menempatkan karhutla sebagai kejadian paling dominan, yakni sekitar 81 persen dari total bencana yang tercatat di Bangka Tengah.
Yudhi Sabara meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan untuk mencegah meluasnya dampak karhutla.
"Kita juga meminta masyarakat segera melaporkan titik api kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan mencegah dampak kebakaran meluas," ujarnya.
Warga diminta meningkatkan kewaspadaan seiring masuknya masa peralihan musim yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di wilayah Bangka Tengah.