Ekonom UI Catat Investasi dan Lapangan Kerja Jadi Fokus Kebijakan Pemerintah

Penulis: Yasir  •  Jumat, 25 September 2026 | 09:08:31 WIB
Guru besar ekonomi Universitas Indonesia Prof. Telisa Falianty berbicara dalam dialog di stasiun televisi swasta di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Prof. Telisa Falianty dari Universitas Indonesia menilai arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran sudah menempatkan investasi dan penciptaan lapangan kerja sebagai prioritas utama. Pertumbuhan ekonomi bertahan di atas 5 persen, inflasi terkendali sekitar 3 persen, dan tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,65 persen. Ia mengingatkan pengawasan lapangan tetap krusial agar program pemagangan tersosialisasi merata.

Guru besar ekonomi Universitas Indonesia itu menyampaikan penilaian tersebut dalam sebuah dialog di stasiun televisi swasta di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomi nasional berada dalam posisi yang sehat di tengah gejolak global yang belum reda.

Indikator Makroekonomi yang Dijaga Pemerintah

Telisa merinci tiga capaian utama yang menjadi fondasi kebijakan saat ini. Pertumbuhan ekonomi nasional bertahan di atas 5 persen, inflasi bergerak di kisaran 3 persen, dan tingkat pengangguran terbuka menyusut ke 4,65 persen.

Angka-angka itu, katanya, tidak muncul sendiri. Pemerintah menahan kenaikan iuran BPJS dan tarif listrik agar daya beli masyarakat tidak tergerus. Di sisi lain, disiplin fiskal dijaga supaya program prioritas tetap bisa berjalan tanpa membebani anggaran.

"Arah kebijakan pemerintah saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat, bagaimana mendatangkan investasi, kemudian iuran bpjs, tarif listrik ditahan agar tidak naik, dan menjaga fiskal agar program prioritas ini bisa terus berjalan," kata Telisa.

Perbaikan Mikro dan Pekerjaan Rumah yang Tersisa

Dari sisi mikro, tren kemiskinan dan ketimpangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan perbaikan. Namun Telisa tidak menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih tersisa, terutama soal pengawasan di lapangan.

Ia menyoroti pentingnya sosialisasi program lapangan kerja, khususnya pemagangan, agar menjangkau calon peserta di daerah. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan media dinilai menjadi kunci agar informasi tidak berhenti di pusat.

"Program lapangan kerja, kemarin ada program magang yang banyak peminatnya. Artinya generasi muda banyak yang membutuhkan," ungkapnya.

Mengapa Pemagangan Jadi Sorotan

Antusiasme generasi muda terhadap program magang, menurut Telisa, menjadi sinyal bahwa permintaan kerja terampil belum sepenuhnya terpenuhi. Program pemagangan dipandang sebagai jembatan antara kebutuhan industri dan lulusan baru yang mencari pengalaman.

Bagi pelaku usaha, program semacam ini berpotensi menekan biaya rekrutmen sekaligus mempercepat penyesuaian keterampilan tenaga kerja. Namun tanpa pengawasan, risiko ketidaksesuaian penempatan dan lemahnya perlindungan peserta tetap membayangi.

Telisa menekankan bahwa indikator makro yang baik perlu diterjemahkan menjadi manfaat nyata di tingkat rumah tangga. Investasi yang masuk harus menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar menambah angka di neraca.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Ketergantungan pada investasi sebagai motor pertumbuhan membuat Indonesia rentan terhadap pergeseran sentimen global. Perlambatan ekonomi mitra dagang utama bisa menekan arus modal dan memperlambat pembukaan lapangan kerja baru.

Karena itu, menjaga stabilitas fiskal dan inflasi tetap menjadi prasyarat. Tanpa itu, insentif yang diberikan pemerintah untuk menarik investasi berisiko tidak berkelanjutan.

Pernyataan Telisa menegaskan satu hal: capaian makro yang terjaga belum cukup tanpa eksekusi program di lapangan. Sosialisasi pemagangan, koordinasi dengan daerah, dan pengawasan peserta menjadi ujian berikutnya bagi arah kebijakan ekonomi yang sudah dipilih.

Reporter: Yasir
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top