KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Manchester City dinyatakan bersalah atas pelanggaran serius aturan keuangan Premier League oleh komisi independen. Keputusan ini membuka pertanyaan besar soal masa depan kepemilikan klub oleh Abu Dhabi United Group dan reaksi para pendukungnya.
Komisi independen Premier League menyimpulkan Manchester City melanggar sejumlah aturan keuangan, termasuk penggunaan "sham contracts" atau kontrak palsu untuk menyamarkan sumber pendanaan. Vonis ini menjadi pukulan telak bagi klub yang selama ini membantah segala tuduhan.
Di tengah ribuan kata yang ditulis dan dibicarakan soal kasus ini, pernyataan Roberto Mancini justru terasa paling menusuk. Mantan pelatih City itu menyebut persoalan ini "not my concern" atau bukan urusannya, karena ia menikmati jutaan dari salah satu kontrak yang dipersoalkan lalu pergi begitu saja.
Mancini dianggap sebagai cerminan klub modern: direkrut karena keahliannya, dibayar mahal, lalu diberi fasilitas besar dengan cara yang oleh komisi dinilai menabrak aturan. Setelah ia pergi, tak banyak yang menoleh ke apa yang ditinggalkannya.
Manchester City tetap bersikukuh tak bersalah. Klub mempertahankan posisinya tanpa rasa penyesalan, dan mendorong narasi soal "teori konspirasi Premier League" serta "bukti tak terbantahkan" yang mendukung mereka.
Banyak pendukung memilih membela klub ketimbang mempertanyakan pemiliknya. Pep Guardiola selama ini menjadi juru bicara tak resmi City, memberikan kepercayaan penuh pada manajemen di atasnya.
Dengan puluhan trofi menghiasi lemari piala, jawaban-jawaban itu dulu diterima. Kini pertanyaannya jauh lebih banyak daripada jawabannya. Seorang pendukung bahkan menyamakan perjuangan City melawan otoritas dengan perjuangan Emmeline Pankhurst dan kaum suffragette, sebuah perbandingan yang terasa jauh dari persoalan skema pendanaan terselubung.
Penelusuran di media sosial justru menemukan lebih banyak komentar yang membela dewan klub dan mempermalukan mereka yang bersuara berbeda.
Jalan City berubah pada 2008, dari klub medioker menjadi pengoleksi momen dan gelar mahal. Sepak bola adalah pelarian banyak orang, hiburan dari rutinitas harian. Ketika klub beralih dari kegagalan rutin ke gelar rutin, wajar jika pendukung menikmatinya.
Namun mantra bahwa klub lebih besar dari pemiliknya nyaris tak berbobot sejak Sheikh Mansour dan Abu Dhabi United Group datang. Pendekatan menghalalkan segala cara diterapkan, dan harganya bukan hanya finansial, tapi juga reputasi.
City akan menempuh segala cara untuk membatalkan putusan ini. Langkah itu wajar jika mereka yakin tak bersalah, tetapi kemenangan hanya bermakna jika berbasis bukti, bukan kekuatan finansial untuk menyewa lebih banyak ahli hukum demi mencari celah.
Regulator Sepak Bola Independen akan menguji kekuatannya dalam kasus seperti ini, termasuk kewenangan memaksa penjualan klub. Perilaku pemilik City dilakukan atas nama klub, klub yang dulu terdegradasi bersama Alan Ball, promosi di bawah Joe Royle, dan sempat mendatangkan George Weah yang hanya tampil sembilan kali.
Laga Premier League berikutnya City berlangsung di Anfield. Perjalanan ke sana akan jadi momen bagi para pendukung untuk merumuskan sikap. Di balik semua perbedaan pendapat, satu hal yang jelas: setiap orang yang menempuh perjalanan itu ingin klub yang bisa mereka banggakan.