Pencarian

Bulog Serap 4,11 Juta Ton Beras Petani, Lampaui Target 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 • 14:09:00 WIB
Bulog Serap 4,11 Juta Ton Beras Petani, Lampaui Target 2026
Bulog menyerap 4,11 juta ton beras petani hingga 8 Oktober 2026, melampaui target pemerintah 4 juta ton.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Perum Bulog menyerap 4,11 juta ton beras petani hingga 8 Oktober 2026, melampaui target pemerintah 4 juta ton atau setara 102 persen. Capaian ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Bulog dan menandai percepatan pengadaan pangan nasional menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan capaian penyerapan gabah setara beras 4,11 juta ton tersebut dalam keterangan kepada media di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Angka itu melampaui target tahunan 4 juta ton yang diberikan pemerintah, sekaligus menandai realisasi pengadaan beras terbesar yang pernah dibukukan perusahaan pelat merah itu.

Realisasi tersebut juga jauh di atas penyerapan 2025 yang tercatat 3,19 juta ton. Bahkan, capaian tahun ini menembus rekor lama pada 2012 yang ketika itu mencapai 3,65 juta ton.

Rekor Baru Sepanjang Sejarah Bulog

Rizal menegaskan, angka 4,11 juta ton bukan sekadar statistik pengadaan. Menurut dia, pencapaian itu merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, mulai dari petani, TNI, Polri, hingga jajaran Bulog di daerah.

"Capaian ini memecahkan rekor tertinggi sepanjang Bulog berdiri dan ini bukan sekadar angka, di baliknya ada kerja keras semua pihak," kata Rizal.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para petani yang menjadi ujung tombak penyerapan. Menurut Rizal, kolaborasi lintas institusi menjadi kunci tercapainya target yang semula dipatok 4 juta ton.

"Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu capaian ini bisa terwujud terutama kepada para petani. Berkat kerja keras bersama, dan semua akan bisa tercapai ketika bersatu demi swasembada pangan berkelanjutan," ujarnya.

Strategi Penguatan Pembelian di Tingkat Produksi

Bulog mengoptimalkan sejumlah instrumen pengadaan untuk mempercepat penyerapan hasil panen. Fokus utamanya adalah memperkuat jaringan pembelian di tingkat produksi, sehingga gabah petani bisa terserap lebih cepat sebelum harga jatuh.

Selain itu, Bulog meningkatkan kesiapan sarana penyimpanan dan pergudangan. Menurut Rizal, fasilitas penyimpanan yang memadai menjadi faktor penting agar pengadaan dan pengelolaan stok beras berjalan lancar, terutama saat puncak panen.

Penyerapan pada momentum awal panen juga menjadi langkah strategis untuk menjaga harga gabah di tingkat petani. Dengan menyerap lebih awal, Bulog berharap petani tidak dirugikan oleh fluktuasi harga yang biasanya terjadi saat pasokan melimpah.

Dampak ke Petani dan Cadangan Pangan Nasional

Bagi petani, penyerapan sebesar 4,11 juta ton berarti ada pembeli besar yang menampung hasil panen mereka. Kehadiran Bulog di tingkat produksi membantu menstabilkan harga gabah, terutama di daerah sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dari sisi cadangan pangan, penyerapan ini memperkuat stok beras pemerintah. Cadangan yang cukup menjadi bantalan ketika produksi terganggu musim kemarau atau bencana, sekaligus menopang program bantuan pangan bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Capaian ini juga menjadi indikator pelaksanaan pengadaan beras pemerintah pada 2026. Pemerintah menargetkan swasembada pangan sebagai agenda prioritas, dan penyerapan hasil panen dalam jumlah besar diharapkan memperkuat peran produksi dalam negeri.

Menjaga Momentum Menuju Swasembada Pangan

Rizal menyebut capaian 4,11 juta ton sebagai momentum menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Swasembada pangan yang ditetapkan sebagai agenda pemerintah membutuhkan dukungan dari hulu ke hilir, termasuk pengelolaan cadangan beras.

Meski target tahunan sudah terlampaui, Bulog masih perlu menjaga ritme pengadaan, penyimpanan, dan distribusi. Keberlanjutan swasembada pangan bergantung pada produksi, stabilitas harga, dan pengelolaan cadangan yang konsisten.

Dengan posisi sebagai penyangga pangan nasional, kinerja Bulog tahun ini menjadi tolok ukur penting. Penyerapan 4,11 juta ton menempatkan perusahaan itu pada titik tertinggi dalam sejarahnya, sekaligus menegaskan peran BUMN pangan dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.

Follow belitungsatu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks