Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Belum Mampu Geser Dominasi Motor Bensin, Ini Hasil Polling Terbaru

Penulis: Yasir  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 23:48:01 WIB
Polling terbaru menunjukkan 34,01 persen responden tetap memilih motor bensin meski ada subsidi motor listrik Rp5 juta.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNGAngka tersebut menjadi pukulan telak bagi optimisme pemerintah yang tengah mengkaji pemberian insentif Rp5 juta per unit motor listrik pada 2026. Data polling menunjukkan, 34,01 persen responden menyatakan tetap memilih motor bensin. Sebanyak 29,55 persen menilai nilai subsidi masih kurang, dan 21,05 persen mengaku subsidi membantu namun belum cukup untuk mendorong keputusan pembelian.

Mayoritas Responden Masih Ragu, Harga Bukan Segalanya

Jika digabungkan, kelompok responden yang masih ragu dan yang tetap setia pada motor bensin mencapai 84,61 persen. Angka ini menegaskan bahwa adopsi kendaraan listrik tidak semata-mata soal harga jual. Kebiasaan, pengalaman, dan persepsi risiko jangka panjang menjadi faktor penghambat utama.

"Sebagian merasa insentif belum cukup besar untuk menutup selisih harga, sebagian lainnya tidak tertarik beralih sama sekali dan menganggap motor bensin lebih praktis," demikian temuan polling tersebut. Fenomena ini lazim terjadi pada adopsi teknologi baru: masyarakat butuh waktu untuk mengamati, membandingkan, dan mencari bukti bahwa perubahan benar-benar menguntungkan.

Harga Turun Jadi Rp25 Jutaan, Tapi Keraguan Soal Baterai dan Servis Belum Sirna

Pemerintah merencanakan insentif Rp5 juta per unit pada 2026 sebagai bagian dari percepatan elektrifikasi nasional. Jika terealisasi, motor listrik yang semula dibanderol Rp30 jutaan bisa ditekan menjadi sekitar Rp25 jutaan. Angka ini memang terlihat menarik di atas kertas.

Namun, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga awal. Biaya penggunaan jangka panjang, kemudahan servis, ketersediaan suku cadang, umur baterai, hingga nilai jual kembali menjadi pertanyaan krusial. Banyak pengguna motor di Indonesia sudah terbiasa dengan sistem motor bensin yang sederhana, bengkel yang mudah ditemukan, dan pengisian bahan bakar yang praktis di mana saja.

Motor listrik menawarkan biaya energi lebih rendah dan emisi minim, namun pertanyaan praktis masih mengemuka: berapa usia pakai baterai? berapa biaya penggantiannya? bagaimana jarak tempuh sekali cas? dan bagaimana jika terjadi kendala teknis di jalan?

Fenomena Hold Buying: Calon Pembeli Justru Menunggu

Uniknya, pembahasan subsidi ini justru memicu fenomena hold buying di pasar. Alih-alih mendorong pembelian, calon konsumen yang berminat justru memilih menunda transaksi sambil menunggu kepastian program subsidi resmi berjalan. Mereka berharap mendapatkan harga lebih murah jika kebijakan benar-benar diberlakukan.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) sebelumnya menegaskan bahwa kepastian kebijakan sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar. Tanpa kepastian, keputusan pembelian cenderung tertunda. Meski demikian, data industri menunjukkan minat terhadap motor listrik masih terus berkembang, terlihat dari peningkatan jumlah kendaraan yang memperoleh sertifikasi tipe dan bertambahnya pilihan model baru.

Reporter: Yasir
Sumber: jatimnet.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top