KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Dalam surat terbuka yang dirilis bertepatan dengan laga puncak, Berset mendesak FIFA membangun ulang sistem tata kelola sebelum Piala Dunia 2030 yang mayoritas digelar di Eropa. Tanpa perubahan fundamental, krisis kepercayaan terhadap sepak bola global disebut akan terus memburuk.
"Piala Dunia FIFA 2026 telah menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan," tulis Berset dalam pernyataan yang dikutip dari Guardian, Senin (20/7/2026). Ia menegaskan bahwa perayaan final bukanlah akhir dari persoalan.
"Perayaan akan berakhir malam ini. Pertanyaan-pertanyaan tidak akan berakhir," tegasnya.
Berset menyoroti sejumlah insiden yang mencoreng turnamen. Mulai dari penangguhan sanksi yang diduga terjadi di bawah tekanan, kewenangan wasit yang dipertanyakan, hingga kasus pelecehan rasial terhadap pemain.
Salah satu kekhawatiran utama Dewan Eropa adalah menjamurnya praktik taruhan yang kini tidak hanya mencakup hasil akhir pertandingan. Setiap detail kecil dalam laga—seperti jumlah kartu, tendangan sudut, hingga pelanggaran—kini menjadi objek taruhan.
Fenomena ini dinilai membuka "pintu bagi kecurangan" yang lebih sulit dideteksi. Berset menilai FIFA gagal membangun pagar pembatas yang memadai untuk melindungi integritas olahraga dari kepentingan ekonomi dan politik.
Berset mendesak FIFA segera membentuk kerangka integritas baru sebelum Piala Dunia 2030. Menurutnya, tanpa langkah konkret, kepercayaan publik terhadap sepak bola dunia akan runtuh sepenuhnya.
"Perayaan akan berakhir malam ini. Pertanyaan-pertanyaan tidak akan berakhir," ulangnya, menekankan urgensi perubahan. Dewan Eropa siap mengawal proses reformasi ini.