PANGKALPINANG — Perjuangan Zilvina melawan epilepsi sudah berlangsung sejak ia masih berusia sangat dini. Keluarga telah berulang kali membawanya ke sejumlah rumah sakit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, namun kondisi balita itu belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Dokter akhirnya memutuskan untuk merujuk Zilvina ke Palembang agar penanganannya lebih optimal. Pengobatan dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit—mulai dari transportasi, tempat tinggal sementara, hingga obat-obatan yang tidak sepenuhnya ditanggung fasilitas kesehatan.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, PT TIMAH Tbk hadir melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Bantuan yang diberikan difokuskan untuk menutupi kebutuhan di luar biaya medis utama yang sudah di-cover rumah sakit.
“Bantuan dari PT TIMAH ini akan kami gunakan untuk biaya transportasi, akomodasi, dan membeli obat-obatan yang diperlukan selama pengobatan,” ujar Deka Erwandi, ayah Zilvina, dalam keterangan yang diterima di Pangkalpinang.
Yanti, ibu Zilvina, mengaku sempat putus asa sebelum akhirnya mendapat kepastian bantuan. Ia berharap pengobatan di Palembang menjadi titik balik bagi kondisi anaknya.
“Kami sudah ke Palembang untuk melakukan pendaftaran. Dokter menjelaskan anak kami akan menjalani pengobatan intensif agar proses pemeriksaan dan penanganannya lebih optimal,” kata Yanti.
Deka menambahkan bahwa penghasilannya sebagai orang tua belum mampu menutup seluruh kebutuhan pengobatan. Ia berharap Zilvina bisa tumbuh sehat seperti anak-anak lain seusianya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT TIMAH yang telah membantu biaya pengobatan anak kami. Semoga PT TIMAH semakin sukses dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup Deka.
Epilepsi pada anak usia dini memerlukan