BANGKA TENGAH — Di tengah gempuran tantangan ekonomi yang kian kompleks, Bumdes Berkah Jaya di Desa Namang, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, memilih jalan berbeda untuk tetap bertahan. Alih-alih hanya mengandalkan satu sektor, badan usaha milik desa ini memadukan pertanian padi sawah dengan konsep agrowisata serta mengelola hasil hutan berupa madu. Langkah ini terbukti mampu menjadi penopang ekonomi warga meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Kepala Desa Namang, Zaiwan, mengungkapkan bahwa usaha yang dijalankan Bumdes memang bersifat musiman. Namun, keberadaan sektor pertanian dan hasil hutan menjadi fondasi yang menjaga roda ekonomi desa tetap berputar sepanjang tahun.
Salah satu terobosan yang dijalankan Bumdes Berkah Jaya adalah skema bantuan pupuk dan obat-obatan bagi para petani. Setiap petani penerima mendapatkan bantuan senilai Rp 1,7 juta untuk mendukung operasional pertanian mereka di lahan seluas 15 hektare.
Bantuan tersebut tidak harus dikembalikan dalam bentuk uang tunai. Sebagai gantinya, petani diwajibkan menjual hasil panennya kepada Bumdes dengan harga yang telah disepakati. Mekanisme ini dinilai menguntungkan kedua belah pihak.
"Petani diuntungkan karena mereka mengembalikan bantuan bukan pakai uang tunai, tetapi dengan cara menjual hasil panen mereka," ujar Zaiwan kepada Kompas.com, Jumat (31/7/2026).
Bumdes menetapkan harga beli gabah dari petani sebesar Rp 15.000 per kilogram untuk beras merah dan Rp 14.000 per kilogram untuk beras putih. Adapun jenis padi yang diusahakan meliputi beras putih pandan wangi dan beras merah.
Dari hasil panen tersebut, Bumdes kemudian menjualnya kembali dengan selisih harga Rp 2.000 per kilogram. Margin ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi kas desa untuk membiayai operasional dan program lainnya.
Selain mengelola lahan pertanian, Bumdes juga memiliki unit usaha tempat penggilingan padi. Meski demikian, Zaiwan mengakui hasil dari penggilingan padi masih berfluktuatif dan belum bisa dijadikan andalan utama.
Meski skema usaha terbilang jelas, Bumdes Berkah Jaya masih menghadapi persoalan klasik, yakni ketersediaan air. Lahan pertanian padi sawah di Desa Namang masih mengandalkan sumber air primer yang kerap mengering saat musim kemarau tiba.
Bantuan sumur bor dari pemerintah telah hadir untuk mengairi sawah, namun Zaiwan menilai hasilnya masih kurang maksimal. "Dalam kondisi keterbatasan ini, pemdes menjaga agar masyarakat tetap mau bertani," jelasnya.
Keterbatasan lain datang dari sisi pengelolaan. Saat ini, Bumdes belum berani membebankan target omzet yang besar kepada pengurus karena sumber daya manusia yang terbatas dan keanggotaan yang masih bersifat sukarela.
"Kegiatan Bumdes masih dianggap usaha sampingan oleh anggota sehingga kami belum bisa memberikan target usaha besar-besaran. Paling penting saat ini bagaimana usaha yang sudah ada bisa terus berjalan," kata Zaiwan.
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, Bumdes Berkah Jaya tidak hanya bergantung pada sektor padi. Diversifikasi usaha dilakukan dengan menggarap potensi madu hutan yang melimpah di wilayah Bangka Belitung serta mengembangkan kawasan sawah menjadi destinasi agrowisata.
Konsep agrowisata ini diharapkan mampu menarik pengunjung dan membuka sumber pendapatan baru di luar hasil panen. Dengan begitu, Bumdes memiliki beberapa lini usaha yang bisa saling menopang ketika salah satu sektor mengalami penurunan.
Keberadaan Bumdes Berkah Jaya menjadi contoh bagaimana badan usaha milik desa dapat bertahan dengan strategi yang adaptif. Meski tidak mengejar target besar, konsistensi dalam menjaga usaha dan memberdayakan petani menjadi kunci utama keberlangsungan ekonomi warga Desa Namang.