KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers di Taman Surya, Balai Kota Surabaya, Minggu (2/8) sore. Maruarar mengaku sempat melakukan panggilan telepon dengan Erick Thohir untuk meminta persetujuan atas usulan venue Bali sebelum akhirnya diumumkan ke publik.
"Jadi teman-teman semifinal dan final sesuai arahan Ketum PSSI Pak Erick [Thohir], tempatnya adalah di Bali," ujar Maruarar di hadapan awak media dan tamu undangan.
Maruarar tidak merinci pertimbangan teknis di balik pemilihan Pulau Dewata. Namun, ia secara blak-blakan mengungkapkan preferensi pribadinya yang sebenarnya ingin membawa seluruh laga semifinal dan final ke Kota Pahlawan.
"Pembukaan di Bandung, saya penginnya semifinal dan final semuanya di Surabaya. Kita sudah diskusikan dengan mendalam, tadinya saya maunya di Surabaya, dengan pertimbangan di sini kotanya aman, masyarakatnya penuh semangat, bersih," katanya.
Kekaguman Maruarar terhadap Surabaya bukan basa-basi. Ia menyebut sempat berdiskusi langsung dengan Wali Kota Eri Cahyadi dan menyaksikan sendiri kondisi kota yang dinilainya indah dan penuh semangat. Namun, keputusan akhir tetap mengarah ke Bali.
Kepada Eri Cahyadi yang hadir dalam kesempatan tersebut, Maruarar memberikan sinyal kuat bahwa kerja sama dengan Surabaya belum berakhir. Ia membuka peluang besar bagi kota tersebut untuk menjadi tuan rumah pada edisi turnamen pramusim berikutnya.
"Mudah-mudahan suatu saat siap. Kalau Mas Eri siap kita main semifinal-final empat pertandingan semua di Surabaya," pungkasnya.
Dengan ditetapkannya Bali sebagai tuan rumah, maka laga semifinal Piala Presiden 2026 yang rencananya berlangsung setelah fase grup rampung akan bergulir di stadion yang berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Bali. Kepastian ini sekaligus menutup spekulasi perpindahan venue dari Jawa Timur ke Jawa Tengah yang sempat beredar.