KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Investigasi yang dilakukan The Telegraph menggunakan dokumen bocor dan citra satelit mengidentifikasi perluasan signifikan infrastruktur drone militer Rusia. Rel peluncuran mekanis tersebut berfungsi sebagai pengganti landasan pacu tradisional untuk membantu lepas landas pesawat nirawak bersayap tetap. Sejumlah pusat drone itu merupakan pangkalan militer dan bandara sipil yang dialihfungsikan, sementara lainnya dibangun di kawasan pedesaan terpencil.
Lokasi pangkalan yang dekat dengan perbatasan Ukraina memungkinkan Rusia melancarkan serangan udara dalam jumlah besar, menembus pertahanan udara Kyiv yang semakin menipis. Namun, analis militer memperingatkan bahwa infrastruktur ini juga dirancang untuk proyeksi kekuatan ke arah barat. Beberapa pangkalan menempatkan drone paling kuat Rusia dalam jangkauan Warsawa, Polandia, yang merupakan salah satu negara NATO di kawasan timur.
Kekhawatiran utama para pejabat intelijen adalah potensi penggunaan pangkalan ini untuk aksi provokasi. Skenario yang dipertimbangkan mencakup serangan rudal atau drone terhadap infrastruktur penting Polandia, atau operasi "false flag" yang kemudian dituduhkan kepada Ukraina. "Kami siap mempertahankan setiap jengkal wilayah sekutu," kata seorang pejabat NATO kepada The Telegraph, Senin (17/8/2026).
Pembangunan rel peluncuran baru ini menandai pergeseran taktik Rusia dalam memanfaatkan drone kamikaze jarak jauh. Sistem peluncuran berbasis rel memungkinkan operasi tanpa memerlukan landasan pacu konvensional yang rentan terhadap serangan balik. Hal ini memberi Moskow fleksibilitas untuk mendistribusikan aset serangannya di area yang luas dan sulit dipantau.
Pejabat NATO menegaskan aliansi akan terus meningkatkan kesiapan untuk mencegah dan menghadapi ancaman apa pun, termasuk dari drone. "Kami akan terus meningkatkan kesiapan kami untuk mencegah dan menghadapi ancaman apa pun, termasuk dari drone," ujarnya.
Pernyataan pejabat NATO tersebut menegaskan sikap aliansi yang tidak akan mentolerir pelanggaran teritorial. Meski tidak ada indikasi serangan yang akan segera terjadi, pembangunan infrastruktur ini dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang Rusia untuk menekan negara-negara bekas blok Soviet yang kini menjadi anggota NATO. Polandia sendiri telah lama menjadi garda depan aliansi dalam menghadapi agresi Rusia di Ukraina.
Keberadaan pangkalan drone ini menambah daftar panjang ketegangan antara Moskow dan NATO. Sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022, Rusia berulang kali memperingatkan akan konsekuensi jika NATO terlibat langsung dalam konflik. Infrastruktur baru ini, menurut para analis, adalah sinyal nyata bahwa Rusia serius mempersiapkan opsi militer terhadap aliansi tersebut jika terjadi eskalasi.
Belum ada tanggapan resmi dari Kremlin terkait temuan investigasi The Telegraph tersebut. Sementara itu, militer Ukraina terus berupaya menyesuaikan diri dengan meningkatnya intensitas serangan drone Rusia yang diluncurkan dari pangkalan-pangkalan baru di dekat perbatasan mereka.