KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Koreksi tajam IHSG pada Rabu (3/6) menjadi alarm bagi para investor yang melihat portofolionya tergerus dalam sehari. Data RTI Infokom mencatat total transaksi mencapai Rp25,21 triliun dari 40,06 miliar saham yang berpindah tangan. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 69 saham yang berhasil menguat, sementara 692 saham lainnya tertekan, dan 54 saham stagnan. Situasi ini mencerminkan aksi jual massal yang merata di hampir semua sektor.
Mengapa Menkeu Membantah Fundamental Ekonomi sebagai Penyebab?
Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas membantah anggapan bahwa anjloknya IHSG terkait dengan memburuknya indikator ekonomi makro. Menurutnya, inflasi yang berada di kisaran 3 persen masih sesuai target Bank Indonesia (2,5% plus minus 1%). Ia juga menunjuk penerimaan pajak di bulan Mei yang tetap tumbuh kencang sebagai bukti fondasi ekonomi yang solid. "Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja," ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Rumor S&P dan Sentimen Negatif yang Disebut Jadi Biang Kerok
Purbaya mengidentifikasi rumor tentang rencana lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) yang akan menurunkan peringkat kredit Indonesia sebagai pemicu utama kepanikan. Ia mengaku baru akan bertemu dengan pihak S&P pada malam hari, dan menilai rumor yang beredar tidak berdasar. "Banyak rumor di dalam negeri. Ada rumor S&P akan mendowngrade (peringkat kredit Indonesia). Padahal saya baru mau ketemu nanti malam," ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa daya beli masyarakat masih kuat, tercermin dari ramainya aktivitas di tempat hiburan dan hotel di berbagai daerah.
Apa yang Akan Dilakukan Pemerintah Selanjutnya?
Meski enggan memprediksi level IHSG ke depan, Purbaya memastikan pemerintah akan fokus pada dua hal: menjaga fundamental ekonomi dan mengelola sentimen pasar. Langkah ini penting untuk meredam aksi jual yang mungkin berlanjut jika rumor negatif terus beredar. "Kalau nanya level enggak tahu. Saya bilang enggak usah takut. Jadi kita akan pastikan lagi semuanya lebih baik, termasuk menjaga sentimen pasar," kata Purbaya. Bagi investor, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa otoritas fiskal siap melakukan intervensi jika diperlukan, namun belum ada langkah konkret yang diumumkan.