KOBA — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, mulai menunjukkan tren kenaikan dalam sepekan terakhir. Ketua DPRD Bangka Tengah Batianus menyebutkan harga saat ini mencapai Rp2.700 per kilogram, baik di tingkat pabrik maupun petani.
“Harga tersebut sudah jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya dan kami berharap tetap stabil demi menjaga kesejahteraan petani,” kata Batianus di Koba, Jumat.
Perusahaan Dilarang Spekulasi Harga
Batianus menegaskan seluruh perusahaan kelapa sawit wajib mematuhi ketentuan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Ia memperingatkan agar tidak ada pihak yang melakukan penurunan harga secara sepihak atau berspekulasi terhadap harga TBS.
“Saya mengingatkan kepada perusahaan kelapa sawit agar mengikuti aturan yang ada dan tidak berspekulasi terhadap harga,” ujarnya.
DPRD berkomitmen memantau secara ketat pergerakan harga di lapangan. Jika ditemukan pelanggaran, kata Batianus, pihaknya akan mengambil langkah tegas sesuai regulasi yang berlaku.
Dispertan Minta Klarifikasi Jika Harga Tak Sesuai
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Tengah Dian Akbarini menyatakan pihaknya secara berkala melakukan pengawasan dan pemantauan harga TBS di tingkat petani maupun pabrik. Ia mengaku tidak segan meminta klarifikasi kepada perusahaan apabila ditemukan ketidaksesuaian harga.
“Bahkan kami meminta klarifikasi kepada pihak perusahaan apabila ditemukan ketidaksesuaian harga di tingkat pabrik,” kata Dian.
Dorong Kemitraan Petani-Perusahaan untuk Harga Lebih Baik
Selain pengawasan, Dispertan Bangka Tengah mendorong perusahaan sawit menjalin kemitraan dengan petani. Pola kemitraan ini dinilai mampu membuka peluang bagi petani untuk memperoleh harga jual yang lebih baik sekaligus mendapatkan pendampingan teknis.
“Dengan pola kemitraan tersebut, petani berpotensi mendapatkan harga yang baik dan pendampingan dari pihak perusahaan guna meningkatkan kualitas produksi,” jelas Dian.
Kemitraan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas TBS sesuai standar pabrik. Petani yang dibina secara langsung oleh perusahaan cenderung menghasilkan buah dengan kualitas lebih seragam, sehingga harga yang ditawarkan pun lebih kompetitif.
Fluktuasi harga TBS menjadi persoalan klasik di daerah sentra sawit seperti Bangka Tengah. Petani kerap menjadi pihak yang paling dirugikan ketika harga anjlok di tengah biaya produksi yang terus naik. Dengan pengawasan ketat dan skema kemitraan, pemerintah daerah berharap kesejahteraan petani sawit setempat bisa lebih terjaga.