KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kritik Kalanick bukan tanpa dasar. Pengalamannya dipecat dari kursi CEO Uber pada 2017 setelah konflik dengan investor Benchmark masih membekas. Ia bahkan terbuka menyarankan para founder untuk tidak menggalang dana dari firma tersebut. Meski demikian, Benchmark baru saja mengumpulkan US$2 miliar pada Juni lalu—bukti bahwa pengaruh Kalanick tidak serta-merta menghancurkan reputasi mereka.
Metafora "Pecatur" dan "Penggemar Catur"
Kalanick melukiskan relasi founder dan VC dengan analogi yang gamblang. Founder adalah "master catur" yang memahami setiap langkah di papan, sementara VC hanyalah "penggemar catur" yang sesekali mampir melihat perkembangan permainan. Menurutnya, sulit bagi VC untuk benar-benar terlibat dalam operasional karena mereka "tidak berada cukup dalam" pada detail bisnis.
Ia juga menyoroti ego para investor. "Semua orang ingin memberi dampak di dunia. Ketika founder tidak mendengarkan saran investor, itu hal yang sulit diterima banyak VC," ujarnya. "Mereka diglamorisasi, punya kursi di meja, punya kekuatan tertentu, dan bisa meninggalkan jejak."
Strategi Menggalang Dana di Tengah "Kegilaan" AI
Meski kritis, Kalanick tidak menyarankan founder menghindari uang VC. Justru ia memberikan kiat taktis untuk memanfaatkan pasar yang sedang panas. Kuncinya adalah menyusun pitch yang memicu perang penawaran antar firm.
Ia menekankan pentingnya menyajikan rencana dengan detail secukupnya—tidak terlalu sedikit agar gagal menarik minat, tetapi juga tidak terlalu rinci. Di era AI yang bergerak cepat, proyeksi jangka panjang terkesan naif.
Refleksi Diri: Menghindari Mentalitas Korban
Di luar kritiknya kepada VC, Kalanick melakukan refleksi diri. Ia mengaku tidak menangani hubungan dengan orang-orang yang kecewa dengan cukup baik. Ia menyadari gaya manajemennya yang agresif menjadi masalah, meski tetap membela semua keputusan yang diambil selama memimpin Uber.
"Masalahnya adalah saya berjalan terlalu dekat dengan garis dalam terlalu banyak situasi. Ketika Anda besar dan penting, ekspektasinya adalah Anda tidak boleh berada dekat dengan garis itu, bahkan jika itu benar," katanya. "Itu adalah hal yang benar-benar tidak saya pahami saat itu."
Gaya keras tersebut berakar dari pengalaman pahit membangun startup pertamanya, Red Swoosh. Empat tahun pertama tanpa gaji, kehabisan uang berkali-kali, dan kehilangan teman adalah harga yang harus dibayarnya. "Saya menjalankan perusahaan senilai US$70 miliar seperti orang yang mengira akan kelaparan minggu depan," ungkapnya.
Gelombang Kritik Lama Mengemuka Kembali
Kalanick tidak sendirian. Mark Pincus, pendiri Zynga, ikut angkat bicara melalui media sosial. Ia menceritakan pengalamannya dengan Accel yang memimpin investasi di Support.com era dot-com. Pincus menuduh firma tersebut melakukan apa yang ia sebut "jihad" untuk menggantikannya sebagai CEO karena dianggap terlalu muda dan belum berpengalaman memimpin perusahaan publik. Para founder lain pun berbondong-bondong membagikan kisah serupa tentang firma yang mereka nilai mendepak paksa pimpinan perusahaan.
Pernyataan Kalanick dan Pincus menyoroti ketegangan struktural yang tak pernah benar-benar hilang antara pendiri dan pemodal. Pendanaan ventura adalah mesin pertumbuhan, tetapi kontrol dan arah perusahaan bisa menjadi medan perang. Bagi ekosistem startup Indonesia yang sedang gencar menarik minat investor global, pelajaran dari konflik ini relevan: memilih investor bukan hanya soal nominal, tetapi juga keselarasan visi jangka panjang.