PANGKALPINANG — Data yang dihimpun Polda Babel menunjukkan distribusi karhutla tidak merata di tujuh kabupaten/kota. Kabupaten Belitung Timur menjadi wilayah paling terdampak dengan 36 kejadian yang membakar 100 hektare lahan. Disusul Kabupaten Belitung dengan 77 kejadian, namun luas lahannya lebih terkendali yakni 86,8 hektare.
Kabupaten Bangka Barat mencatat 26 kejadian dengan luasan cukup besar mencapai 89,5 hektare. Sementara Kabupaten Bangka mengalami 30 kejadian yang menghanguskan 60 hektare. Wilayah lain seperti Bangka Tengah (16 kejadian, 9 hektare), Bangka Selatan (5 kejadian, 4,51 hektare), dan Kota Pangkalpinang (1 kejadian, 1 hektare) tercatat lebih rendah.
Karoops Polda Kepulauan Babel Kombes Pol Muhammad Akbar Thamrin mengungkapkan adanya ketidaksamaan data karhutla antara Polda dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Babel. Perbedaan pencatatan ini dinilai sebagai kelemahan koordinasi antar-instansi dalam sistem penanggulangan bencana.
“Kami ingin dalam penanganan bencana alam ini, khususnya karhutla, berbasis data guna memperkuat langkah-langkah dalam mengantisipasi, mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau tahun ini,” kata Akbar dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla Antisipasi Fenomena El Nino Godzilla Tahun 2026 di Pangkalpinang, Selasa.
Rakor tersebut secara khusus membahas antisipasi fenomena El Nino Godzilla yang diperkirakan memicu kekeringan ekstrem. Bagi Bangka Belitung yang memiliki tutupan vegetasi gambut dan perkebunan sawit luas, kondisi kering sangat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.
Muhammad Akbar Thamrin menjelaskan bahwa karhutla merupakan salah satu komponen dari total 272 kejadian bencana hidrometeorologi yang ditangani Polda Babel selama Januari hingga Mei 2026. Bencana lain yang mendominasi adalah banjir dan cuaca ekstrem, menunjukkan tekanan ganda yang dihadapi provinsi kepulauan ini.
Keterkaitan dengan sektor ekonomi lokal tidak bisa diabaikan. Seperti dilaporkan JournalArta sebelumnya tentang anjloknya harga sawit di Babel, tekanan ekonomi pada petani kelapa sawit dapat mendorong praktik land clearing yang berisiko memicu kebakaran, terutama di musim kemarau.
Pola distribusi karhutla yang menunjukkan wilayah pesisir timur Bangka Belitung lebih rentan juga mengindikasikan faktor topografi, tutupan lahan, dan aktivitas manusia turut berkontribusi. Polda Babel menekankan pentingnya sinkronisasi data dan penguatan respons berbasis data untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang lebih luas selama musim kemarau tahun ini.