SUNGAILIAT — Pelestarian Bahasa Melayu Bangka tidak lagi sekadar wacana. Pemerintah Kabupaten Bangka bersama Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengajar Utama untuk Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2026 di OR Parai Tenggiri, Kantor Bupati Bangka, Senin (20/7/2026). Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka, Drs. Asep Setiawan, membuka langsung acara yang dihadiri ratusan guru se-Kabupaten Bangka dan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Babel, Afriyendy Gusti, S.S., M.Hum.
Mengapa Bahasa Daerah Harus Direvitalisasi Sekarang?
Menurut Plt Sekda Asep Setiawan, Bahasa Melayu Bangka bukan hanya alat komunikasi sehari-hari. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang mulai tergerus zaman. "Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan jati diri, sejarah, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Di dalam Bahasa Melayu Bangka tersimpan sopan santun, rasa hormat, dan cara pandang khas masyarakat kita," ujar Asep.
Ia menekankan bahwa sekolah memegang peran paling strategis dalam proses pewarisan ini. Para guru, kata Asep, adalah ujung tombak yang menentukan apakah generasi mendatang masih akan mengenal dan menggunakan bahasa ibu mereka.
Ancaman Globalisasi dan Era Digital
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Babel, Afriyendy Gusti, mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari keterbukaan informasi. "Kita menghadapi tantangan besar di era keterbukaan. Jika tidak bijaksana, pengaruh luar dapat menggeser posisi bahasa daerah," jelasnya. Dominasi bahasa asing di platform digital dan media sosial dinilai menjadi salah satu faktor utama menurunnya minat generasi muda terhadap bahasa lokal.
Bimtek ini menjadi respons atas kondisi tersebut. Para guru yang menjadi peserta diharapkan mampu menjadi motor penggerak di sekolah masing-masing, tidak hanya mengajar, tetapi juga menciptakan ekosistem yang membuat Bahasa Melayu Bangka tetap hidup dan relevan.
Langkah Nyata Pemkab Bangka dan Kantor Bahasa
Kegiatan ini merupakan bagian dari program revitalisasi yang lebih besar. Dengan melibatkan langsung para pengajar, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa pelestarian bahasa tidak berhenti di dokumen kebijakan, tetapi benar-benar sampai ke ruang kelas. Ratusan guru yang hadir akan mendapatkan materi dan metode pengajaran yang sesuai dengan konteks kekinian, agar Bahasa Melayu Bangka bisa diajarkan secara menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai aslinya.